Monday, February 25, 2013

PEMBANGUNAN DAN PENGGUNAAN GEDUNG PANTJADHARMA UNIVERSITAS GADJAH MADA

Sekilas tulisan ini adalah disadur dari berbagai sumber dan merupakan kompilasi yang dimaksud untuk melengkapi tulisan pengetahuan mengenai "Gedung Pantja Dharma UGM"


A.    Latar Belakang
“Maka demikian pula Saudara-saudara, kita pada saat sekarang ini, berada di dalam gedung yang oleh Menteri Muda Pekerjaan Umum dan Tenaga dinamakan Wisma Puruhita, Wisma Murid yang oleh Presiden Universitas Gadjah Mada dinamakan Wisma Pantjadharma, Gedung Lima Dharma, kewajiban dalam arti yang biasa dipakai di Indonesia. Kecuali saya menegaskan bahwa gedung ini didirikan dengan uang rakyat dan sebenarnya milik rakyat dan untuk rakyat”. (Presiden Soekarno, 1959).
Description: http://3.bp.blogspot.com/-_UNSKvWh6W4/T-QN4WGMFII/AAAAAAAAA-o/5c3MIacKcEs/s320/peresmian+pak+karno_912x684.jpg
Tulisan di atas adalah kutipan pidato Presiden Republik Indonesia Dr. Ir. Soekarno pada saat pembukaan Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tanggal 19 Desember 1959. Dari pidato presiden, secara jelas dapat dipahami bahwa Gedung Pusat UGM yang berada di Bulak Sumur dan sedang diresmikan tersebut diberi nama “Pantjadharma”. Sementara itu di tangga naik ke lantai II Gedung Sekip Unit V terdapat sebuah prasati yang bertuliskan “Gedung Pantjadharma” yang juga diresmikan oleh Presiden Soekarno dan bertanggal yang sama dengan tanggal peresmian Gedung Pusat.
Pertanyaan dari polemik akhirnya muncul? Pertama, tentang pendirian gedung Panca Dharma, seperti apa pendirian Gedung Panca Dharma? siapa saja yang terlibat dalam pendirian gedung ini? digunakan untuk apa saja Gedung Panca Dharma di awal pendiriannya? Mana sesungguhnya yang disebut Gedung Pantjadharma. Kantor Pusat UGM ataukah Gedung Sekip Unit V yang sekarang ditempati Perpustakaan dan Arsip Universitas. Kedua, Perubahan fungsi penggunaan Gedung Panca Dharma, kapan awal terjadinya perubahan fungsi Gedung Panca Dharma? seperti apa bentuk atau gambar visual Gedung Panca Dharma pada setiap periode? Ketiga, Peranan Panitia Gedung-Gedung UGM, bagaimana peranan Panitia Gedung-Gedung UGM selama pembangunan dan kelangsungan penggunaan Gedung Panca Dharma? Dari pertanyaan-pertanyaan itu akan dicari seperti apa Gedung Panca Dharma dan peranannya dari awal didirikan hingga sekarang.

B.     Mengenai Gedung Pantjadharma
Dalam arsip Laporan Dies tersebut tertulis dalam halaman 25 kalimat. “ Gedung-gedung yang sudah didirikan ialah: 1. Gedung Pusat Tatausaha dengan lantai sebesar 18450 m2; 5. Gedung Pantjadharma dengan lantainya sebesar 27000 m2; ....” (Laporan Rektor Tahun 1959)
Hasil temuan ini membuat pertanyaan mengenai Gedung Pantjadharma menjadi terang. Kemungkinan besar yang dinamakan Pantjadharma adalah 5 unit gedung yang ada di Sekip. Saat itu boleh jadi Presiden Soekarno salah menafsirkan isi laporan atau sambutan Prof. Sardjito yang menyebut Gedung Panjtadharma.
Gedung Panca Dharma memiliki peranan penting dalam perkembangan dan perubahan yang terjadi di Universitas Gadjah Mada. Pada 17 Februari 1946, Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada didirikan. Beberapa gedung kemudian dibangun dan digunakan sebagai ruang kuliah meskipun terpisah-pisah lokasinya. Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada, Perguruan Tinggi Kedokteran, Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan, Sekolah Tinggi Farmasi, dan Perguruan Tinggi Pertanian berada di Klaten dari tahun 1946. Bahkan ada beberapa Fakultas yang gedungnya berada di Jetis maupun Sala, termasuk kampus di Jl Kaliurang yang sekarang dipakai sebagai kantor BNI 46, kampus Pagilaran yang digunakan untuk Fakulteit Sastera Pedagogik dan Filsafat. Gedung Panca Dharma sebelumnya disebut sebagai gedung Schiec-terrein atau Lapangan Tembak Sekip. Selain Gedung Pusat yang peresmiannya pada tanggal 19 Desember 1959 dihadiri Ir Sukarno, pada tanggal yang sama di dalam salah satu gedung Panca Dharma terdapat batu yang bertuliskan Gedung Pantja Dharma UGM diresmikan oleh Ir Sukarno.

C.    Pantjadharma Sebagai Perpustakaan
Gedung Unit I pada awalnya digunakan untuk mahasiswa tingkat sarjana muda, sedangkan gedung Unit II bagi mahasiswa tingkat sarjana. Namun setelah dihapuskannya tingkat sarjana muda di perguruan tinggi, peraturan tersebut tidak berlaku lagi.
Berdasarkan Surat Keputusan Rektor UGM Nomor 200/P/SK/HT/2008 Tanggal 9 Mei 2008, Perpustakaan Pascasarjana UGM yang semula menempati gedung seluas 1782 m2 di sebelah timur Perpustakaan UGM Unit I Bulaksumur, disatukan pengelolaannya di bawah Perpustakaan Universitas. Kemudian gedung ini dijadikan Perpustakaan Unit III Bulaksumur atau dikenal dengan Academic Resource Center (ARC).
Disebutkan, sejak tahun 1959, gedung tersebut menjadi gedung Perpustakaan Pusat UGM, menggantikan gedung perpustakaan lama yang terletak di Jl. Setjodiningratan (Hotel Limaran). Tanggal 31 Juli 1975, ketika Perpustakaan UGM mendapat satu tambahan gedung yang terletak di selatan Gedung Pusat, maka predikatnya tak lagi sebagai Perpustakaan Pusat. Demikian pula layanan yang disediakan tinggal layanan peminjaman buku teks. Koleksi referensi dan kantor pengelola dialihkan ke gedung baru, yang kemudian disebut sebagai Perpustakaan Pusat UGM.

D.    Pantjadharma sebagai asrama mahasiswa
Gedung-gedung yang ada di Sekip itu sebenarnya tidak dirancang untuk ruang kuliah ataupun perpustakaan. Unit I, II, III dan IV untuk asrama mahasiswa. Sedangkan Unit V untuk kantor asrama, ruang pertemuan atau rapat dan ruang makan. Gedung Unit V ada ruangan yang luas sekali, yang rencananya untuk tempat pertemuan.
Rencana pendirian asrama mahasiswa disinggung oleh Presiden Universitas Prof. Dr. M. Sardjito dalam Laporan Tahunan Universitit Gadjah Mada bagi Tahun Pengadjaran 1951/1952. Bahwa UGM mengalami kesulitan dalam menyediakan fasilitas perumahan bagi mahasiswa, yang saat itu jumlahnya mencapai 3.439 orang. Untuk itu, pada 13 April 1952 dibentuk Yayasan Guna Dharma. Dimotori Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yayasan ini membantu UGM dalam membangun asrama mahasiswa. Dana senilai Rp. 10.000.000 pun segera dikucurkan atas bantuan Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, Kementrian Pekerjaan Umum dan Tenaga dan Kementrian Keuangan.
Proses pembangunannya selanjutnya dikupas oleh Presiden Universitas Prof. Sardjito dalam Laporan Tahunan Universitit Gadjah Mada bagi Tahun Pengadjaran 1952/1953. Dijelaskan kerja sama yang terjalin antara UGM, Jawatan Gedung-Gedung dengan Yayasan Guna Dharma, bukan hanya membangun asrama mahasiswa untuk sekitar 1.000 orang, melainkan juga gedung tata usaha bertingkat dua, asrama mahasiswa di Baciro, asrama putri, rumah-rumah guru dan gedung-gedung darurat.
Mantan Kepala Biro Bangunan UGM, Ir. Sugeng Joyowirono, juga mengingat dengan baik bahwa Gedung Sekip Unit V belum pernah dipakai untuk kantor asrama mahasiswa. Tetapi gedung itu juga tidak didesain untuk perpustakaan. Karena itu, ruangannya lalu disingget-singget, disesuaikan dengan kebutuhan. Dan itu sampai sekarang.
Didesak oleh kebutuhan akan ruang kuliah dan perpustakaan. Alasan inilah yang menyebabkan sejumlah gedung di UGM, termasuk Gedung Sekip Unit V berubah fungsi dari rencana awal peruntukannya. Ini seperti dikatakan Presiden Universitas Prof. Dr. M. Sardjito dalam Laporan Tahunan UGM Bagi Tahun Pengajaran 1957/1958, ketika menjelaskan rencana pemindahan Perpustakaan Pusat ke gedung baru di Sekip, yang memiliki dua lantai, dengan salah satu lantainya berukuran 17 x 50 m.

E.     Pantjadharma Sebagai Gedung Konferensi Colombo Plan

Description: Perpustakaan UGM
Gedung Pantja Dharma, dulu pernah dipakai untuk Konferensi Colombo Plan, konferensi untuk mengkongkritkan Colombo Plan, serta pendahuluan bagi digelarnya Konferensi Asia Afrika atas izin dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Setelah konferensi selesai, gedung itu kembali diserahkan kepada Sri Sultan yang kemudian dimanfaatkan oleh UGM.
F.     Simpulan
Jadi setelah membaca sedimikan rupa topik dan penjelasan serta asal muasal gedung ini bisa disimpulkan gedung ini memiliki arti lima prinsip dalam menegakkan pendidikan di UGM yang ditandai dengan nama panca dharma. Fungsi yang awalnya sebagai asrama mahasiswa diubah ke fungsi sebagai perkuliahan. Filosofi lainnya gedung ini dibangun berdasarkan gaya belanda dan diarsitektur oleh orang asli indonesia. Gedung ini menjadi sejarah dan saksi bisu pergerakan awal pendidikan Universitas Gadjah Mada.

 Disusun dan ditulis oleh:
1. Verry Mardiyanto (10/298471/DSA/04936)
2. Endra Permana (10/303853/DSA/04980)
3. Jatmo Sukodono J.P. (10/303905/DSA/05003)
4. Sauman Zainal Arifin (10//DSA/)
5. Hanif Aulia R. (10//DSA/)