Rabu, 13 April 2011

Life Cyle of Records atau Daur Hidup Arsip


Apakah Life Cyle of Records dapat disebut sebagai suatu sistem? Jelaskan!

          Suatu sistem biasanya terdiri dari subsistem-subsistem yang saling bersinergi. Life Cyle of Records atau daur hidup arsip dapat disebut sistem karena dia memiliki subsistem yang diantaranya adalah penciptaan-penggunaan-pengurusan dan pengendalian-penyusutan-pemusnahan-penyimpanan di unit kearsipan-peneyerahan ke ANRI/Arsip di Daerah.
Arsip dibagi menjadi 3 tahap hidup, yaitu: 1. Arsip aktif, 2. Arsip inaktif, 3. Arsip statis. Berikut gambar menegnainya dan penjelasannya:
Cycle Diagram
Keterangan Gambar:
- Nomor 1-3 adalah lingkup dari Arsip aktif
1. Tahap penciptaan arsip, merupakan tahap awal dari proses terbentuknya arsip. Tahap ini berupa konsep, daftar, formulir, dsb.
2. Tahap dimana surat masuk/keluar diurus secara sistem yang kearsipan yang diterapkan di kantor tersebut, biasanya sistem kartu kendali atau buku agenda.
3. Penggunaan disini adalah surat tersebut digunakan oleh penggunanya dalam berprises untuk menunjang kegiatan administrasi yang ada, lalu setelah itu surat dapat diindeks dan diklasifikasikan kemudian disimpan berdasarkan sistem yang dipakai.
- Nomor 4-5 merupakan bagian dari Arsip Inaktif
4. Tahap penyusutan adalah kegiatan pengurangan arsip yang sudah inaktif, berarti di tahap ini ada perubahan sifat arsip yang tadinya aktif ke inaktif, juga susutannya mengurangi nilai aktif itu sendiri.
5. Tahap pemusnahan adalah tahap arsip mengalami kehilangan jati dirinya namun ada juga arsip yang tidak musnah, arsip yang musnah adalah arsip yang tidak mempunyai nilai guna lagi. Arsip dimusnahkan oleh unit kearsipan atau lembaga-lembaga Negara juga swasta dengan metode-metode yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.
6. Tahap penyimpanan adalah tahap menyimpan arsip oleh unit kearsipan, namun arsip yang disimpan adalah arsip yang telah menurun nilai gunanya. Sebelum ke tahap ini arsip mempunyai JRA yang dipergunakan untuk tingkat nilai gunanya.
7. Tahap penyerahan ke ANRI/Arsip di daerah. Tahap ini diperuntukkan kepada arsip statis, artinya arsip yang mempunyai nilai abadi dan mengandung nilai sejarah yang kuat serta jika arsip ini hilang maka akan hilang salah satu bagian dari yang mempunyai arsip tersebut. Dengan kata lain kenangan yang ada saat pengolah memproses arsip itu menjadi hilang tanpa bekas.
*Kesimpulan:  Tahap-tahap diatas merupakan subsistem hidup arsip dan bersinergi padu menjadi sistem daur hidup arsip yang utuh, semuanya saling berkesinambungan dan melengkapi serta patut ada, tidak mungkin salah satu dari subsistem itu tidak ada atau tidak melengkapi.

Daftar Pustaka
Sedarmayanti. 2008. Tata Kearsipan Dengan Memanfaatkan Teknologi Modern. Cetakan ke-IV. Bandung: Mandar Maju.
Sumber internet
http://www.pws.gov.nt.ca/pdf/recordsManagement/bulletins/PDFBulletin_06.pdf



Sistem Kearsipan di Indonesia

Jelaskan apa yang Anda pahami tentang sistem kearsipan di Indonesia?

         Kata sistem dalam lingkup kearsipan biasanya meliputi penggolongan, penyusunan, peralatan yang digunakan serta metode-metode yang dipergunakan apabila meminjam atau mengembalikan surat. Sistem kearsipan juga terdiri dari rangkaian subsistem tersebut guna memperoleh satu tujuan dari sistem kearsipan tersebut.
           Prinsipnya dalam pengelolaan arsip yang baik adalah cepat ditemukan, hemat, sederhana, bermakna dan efisien. Lalu bagaimana sistem kearsipan di Indonesia? Sistem kearsipan di Indonesia yang saya ketahui dan dipergunakan sekarang adalah sistem kartu kendali. Sistem ini melengkapi atau penyempurnaan dari sistem terdahulu, berikut sistem terdahulunya sistem verbal, sistem agenda, sistem kaulbach, sistem tata naskah.

- Sistem kartu kendali/sistem kearsipan pola baru meliputi dari penanganan surat masuk dan keluar yang terdiri dari penerimaan, pencatatan, pengarahan, pendistribusian, pemprosesan lebih lanjut dan pengiriman surat keluar, lalu kode klasifikasi, indeks, tunjuk silang, penataan berkas, penemuan kembali arsip, dan penyusutan arsip.
        Sistem kartu kendali mempergunakan kartu kendali yang berisi kolom-kolom untuk mencatat surat masuk dan keluar serta mengendalikan surat tersebut. Kolom-kolom tersebut terdiri dari A. Kolom indeks, B. Kolom tanggal, nomor urut, dan huruf M/K yang berarti masuk atau keluar, C. Kolom kode, D. Kolom isi ringkas, E. Kolom lampiran, F. Kolom dari, G. Kolom kepada, H. Kolom tanggal, I. Kolom nomor surat, J. Kolom pengolah, K. Kolom paraf, L. Kolom catatan.
          Sarana-sarana dalam sistem kearsipan pola baru antara lain meliputi; kartu kendali, lembar pengantar, lembar disposisi, dan pola klasifikasi.

- Sistem buku agenda dipergunakan oleh kantor yang belum menerapkan sistem kartu kendali. Pada pencatatan surat masuk dan keluarnya dapat dipisahkan dengan mempergunakan buku agenda surat masuk dan keluar.

* Perbedaan antara buku agenda dan kartu kendali terletak di penyusunannya lebih lanjut, kartu kendali mudah sedangkan buku agenda sulit, kemudian indeks agenda sulit ditemukan dan kartu kendali mudah, kemudian pengaturan arsip dengan peralatan sulit diterapkan sedangkan kartu kendali mudah dan sesuai dengan penggunannya.
         Sistem - sistem tersebut dipergunakan untuk mempermudah dalam menggunakannya dan dengan prinsip efisiensi, semua itu selalu mendukung dari penciptaanya hingga ke penyusutannya.

* Sistem kearsipan di Indonesia banyak yang menggunakan konsep kombinasi dari desentralisasi dan sentralisasi arsip. Penjelasan sistem ini dilihat dari penggorganisasian arsip melalui unit-unit yang ada. Di Indonesia rata-rata kantor mempergunakan cara ini (kombinasi keduanya), desentralisasi digunakan ketika arsip itu masih aktif (di central file) dan dipergunakan oleh bidangnya dan jika sudah inaktif maka akan dipindah ke sentralisasi atau unit kearsipan di kantor tersebut (di records center).

Daftar Pustaka
Sugiarto, Agus dan Teguh Wahyono. 2005. Manajemen Kearsipan Modern dari Konvensional ke Basis Komputer. Yogyakarta: Gava Media.
Sumber Internet
http://arsip.ugm.ac.id/buletindetil.php?id=42

Terima Kasih.
Kritik dan Saran Tersedia.




Uraikan pemahaman anda tentang konsep-konsep dasar sistem informasi manajemen!

JAWABAN:


konsep-konsep dasar sistem informasi manajemen meliputi:
A. Sistem
Penggunann istilah sistem ini dapat dikaitkan dengan berbagai objek yang jadi sasarannya, misalnya sistem ekonomi, sistem politik, sistem sekolah, sistem kearsipan dsb. Dalam sistem terdapat berbagai komponen yang mendukungnya, biasanya disebut subsistem dan suprasistem dari sistem tersebut, contoh subsistem adalah sistem dari perusahaan terdapat subsistem akuntansi dan suprasistem (sistem yang lebih besar dari sistem tersebut) dari sistem perusahaan adalah industri, namun jika industri dipandang sebagai suatu sistem maka subsistemnya adalah perusahaan, tergantung mana yang menjadi bahan dari sistem tersebut.
Berbagai ahli berpendapat tentang sistem ini, diantaranya:
- Gordon B. Davis mengatakan sistem dapat abstrak atau fisis. Sistem yang abstrak adalah susunan yang teratur dari gagasan-gagasan atau konsepsi-konsepsi yang saling bergantungan. Sistem yang bersifat fisis adalah serangkaian unsur yang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan.
- Menurut Jerry FithGerald: sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau menyelesaikan suatu sasaran tertentu.
- Jadi sistem adalah suatu kesatuan hubungan yang saling bekerja sama dan timbal balik guna memperoleh tujuan yang dikehendaki. Sistem ini pasti ada disetiap keperluan yang kita jalani setiap hari.
William A Shorde dan Don Voich J.R. dalam buku “Organization and Management” menyebut 6 ciri sistem adalah
1. Perilaku berdasar tujuan tertentu, 2. Keseluruhan, 3. Keterbukaan, 4. Transformasi, 5. Antarhubungan, 6. Mekanisme kontrol.
Dalam sifat sistem juga terdapat fisik dan konsep, diantara kedua tersebut yang paling melihatkan kegiatan atau perilaku adalah fisik, bukan konsep, tetapi dari konsep itu sistem berubah menjadi fisik.
Di sistem juga terdapat model yang sudah diketahui secara umum yaitu masukan, pengolah, dan keluaran.

B. Informasi
Informasi sangat penting sekali dan selalu mengalami peningkatan serta cenderung berubah-ubah juga informasi itu selalu dibutuhkan mulai dari persiapan suatu kegiatan samapai pada pencapaian tujuan yang diinginkan. Namun sering kali informasi disamakan dengan fakta dan data, berikut pengertiannya mengenai fakta, data dan informasi:
Fakta adalah kenyataan yang terjadi.
Data adalah kumpulan dari fakta yang masih mentah dan belum terorganisir kemudian belum mempunyai tujuan yang jelas.
Informasi adalah data yang dicatat, disusun, digolongkan, dan dihubungkan menjadi suatu rangkaian tertentu untuk menjadi suatu pengertian yang pas.
Blumental Sherman mengatakan fakta maupun data belum menjadi informasi sebelum mengalami proses dan kemudian dikomunikasikan.
Di dalam informasi terdapat struktur informasi, jenis informasi, tingkat informasi, media informasi, tindak lanjut informasi, dan nilai informasi. Semua itu memiliki arti masing-masing.

C. Manajemen
Berbagai ahli berpendapat mengenai manajemen diantaranya
- Menurut Drs. H. Malayu S. P. Hasibuan, dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia:
Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu.
- Menurut G. R. Terry dalam bukunya Principle of Management, memandang manajemen sebagai suatu proses, sebagai berikut:
Manajemen adalah suatu proses tertentu yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan yang dilakukan untuk menetukan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan manusia dan sumber daya lainnya.
- Dale Yoder, Ph. D. memandang manajemen juga sebagai suatu proses. Dalam bukunya yang berjudul Personnel Management Relations, ia menulis:
Manajemen menunjukkan proses perencanaan, pengarahan, dan pengawasan.
- Jadi manajemen adalah proses dan cara yang digunakan oleh pimpinan denagn tepat untuk dilakukan dan mempergunakan cara yang efektif dan efisien guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama dan dilakukan melalui kerja sama yang bersinergi antarbidang yang terlibat di dalam proses tersebut.
Sumber daya yang mendukung pencapaian tujuan tersebut dikenal dengan 6 M, yaitu:
1. Men, 2. Matterials, 3. Machines, 4. Methods, 5. Money, 7. Market.
Sumber daya tersebut dikelola dalam tindakan yang bernama fungsi manajemen, diantaranya:
A. Planning, B. Organizing, C. Actuating, D. Controlling.
C. Arti Sistem Informasi Manajemen
SIM adalah sebuah sistem manusia/mesin yang terpadu, untuk menyajikan informasi, guna mendukung fungsi operasi manajemen, dan pengambilan keputusan dalam organisasi. (Gordon B. Davis, 1988:3), sedangkan SIM menurut The Encyclopedia of Management adalah pendekatan-pendekatan yang direncanakan dan disusun untuk memberikan bantuan yang piawai yang memudahkan proses manajerial kepada pejabat pimpinan. Namun SIM sekarang lebih menekan kepada pengambilan keputusan oleh pimpinan perusahaan atau manajerial yang berbasis sistem computer yang memberikan informasi dan dukungannya. SIM nya lebih cenderung ke penggunaan alat karena kecanggihan teknologi dan akurat serta kemudahannya digunakan dimana-mana. Umumnya SIM berbasis komputer mengandung unsur-unsur berikut:
1. Manusia, 2. Perangkat keras, 3. Perangkat linak, 4. Data, 5. Prosedur.
Berikut elemen-elemen dasar SIM:











Sumber: Diadaptasi dari Ralph M. Stair and George W. Reynolds, Principle of Information System: A Managerial Approach, Edisi 4. (Cambridge, Mass.: Course Technology, 1999), 391.


Daftar Pustaka
Daft, Richard L. 2006. Manajemen. Edisi Keenam. Jakarta: Salemba Empat.
Hasibuan, Malayu S.P. 2007. Manajemen: Dasar, Pengertian, dan Masalah. Cetakan ke-VI. Jakarta: Bumi Aksara.
Sedarmayanti. 2008. Tata Kearsipan Dengan Memanfaatkan Teknologi Modern. Cetakan ke-IV. Bandung: Mandar Maju.
Warsidi, Adi. 1986. Buku Materi Pokok Administrasi Perkantoran, ADNE4331/3SKS/MODUL 1-5. Jakarta: Universitas Terbuka.
Sumber Internet
http://www.simkes.co.cc/2010/02/konsep-dasar-sistem.html





Minggu, 10 April 2011

MANAJEMEN INFORMASI DALAM ORGANISASI

Akses Informasi

Rangkuman
Akses informasi adalah pencapaian, peraihan atau perolehan akan informasi tanpa atau dengan melalui saluran atau media telekomunikasi. Informasi tersebut ada yang berbentuk sebagai informasi terekam dan ada juga informasi yang tidak terekam. Akses informasi dapat dilakukan secara online dan offline. Dalam tingkatan manajemen, cara akses informasi juga berbeda-beda sesuai dengan kewenangan dan penguasaan informasi bagi tiap tingkatan manajemen. Dan untuk mendapatkan akses informasi yang efisien dan efektif maka diperlukan sistem temu balik informasi.
Sistem temu kembali informasi merupakan sistem, baik manual maupun otomasi yang dapat melakukan pencarian atau penemuan kembali informasi sesuai dengan permintaan maupun kebutuhan pengguna, dengan informasi yang telah diseleksi sehingga informasi tersebut valid dan relevan bagi penggunanya. Dalam sistem temu kembali informasi otomasi, digunakan tesaurus untuk sistem pengindeksan pancalarasnya.


Manajemen Informasi dalam organisasi

Rangkuman
Dalam praktek organisasi, manajemen informasi juga dikenal sebagai sistem informasi, hal ini sesuai dengan pendapat Nurwono.
Pengertian manajemen informasi dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, antara lain dilihat dari: a) akar kata; b) paradigma informasi. Bila berdasarkan sudut pandang tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa: manajemen informasi adalah perencanaan, pengelolaan dan pengendalian informasi yang berpijak pada perkembangan ilmu manajemen dan teknik informasi, sehingga dalam prakteknya dapat mengelola, menghasilkan dan mengendalikan informasi yang bernilai bagi pihak-pihak yang berkepentingan di dalam dan diluar organisasi dalam konteks yang sudah ditentukan oleh organisasi yang bersangkutan.
Manajemen terkait erat dengan proses pengambilan keputusan yang dibuat oleh pimpinan, maka unsur-unsur Manajemen Informasi yang dikenal dengan julukan 5 M yaitu (1) men atau manusia, (2) money atau uang, (3) machines atau mesin, (4) material atau peralatan, dan (5) market atau pasar. Berdasarkan fungsinya, manajemen mencakup antara lain (1) planning atau perencanaan, (2) organizing atau pengorganisasian, (3) actuating atau penggerakan, dan (4) controlling atau pengawasan.

Karakteristik Sistem Informasi Manajemen adalah memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap peran alat pendukung utamanya yaitu komputer. Manajemen informasi merupakan suatu bidang yang menjembatani kebutuhan antara manajer yang membutuhkan data untuk keperluan pengambilan keputusan dengan para pekerja di bidang komputer yang berusaha memenuhi kebutuhan manajer organisasi.
Model Manajemen Informasi menurut Rohm dan Stewart dalam Nurwono (1994) berisi 15 tingkatan kemampuan manajemen informasi. Tingkatan-tingkatan ini digolongkan menjadi 4 golongan yang umum, yaitu: 1). Dasar-dasar Informasi, 2) Peralatan Informasi, 3) Spesialis Informasi, dan 4) Pembangkit Pengetahuan Informasi.

Daftar Pustaka
• Badudu, JS dan Zain, Sutan Mohamad. (1996). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
• Chowdhury, G.C. (1999). Introduction to Modern Information Retrieval. London: Library Association Publishing.
• Harter, Stephen P. (1986). Online Information Retrieval, Concept, Principles, and Technique. Orlando: Academic Press,Inc.
• Indrajit, R.E (2000). Pengantar Konsep Dasar: Manajemen Sistem Informasi dan Teknologi Informasi. Jakarta:PT.Elex Media Komputindo
• Jogianto, Hartono. (2003). Sistem Teknologi Informasi-Pendekatan Terintegrasi: Konsep Dasar, Teknologi, Aplikasi, Pengembangan dan Pengelolaan. Yogyakarta: Penerbit Andi.
• Laudon, Kenneth C., Laudon, Jane P. (1998). Management Information System: New Approach to Organization & Technology. 5th Edition. New Jersey: Prentice Hall International.
• Mandala, Rila. Sistem Temu Balik Informasi dengan Menggunakan Model Probabilistik. Jurnal Informatika Volume 1. Nomor 2. Mei Tahun 2002. (Artikel).
• Nurwono, Yuniarto (1994). Manajemen Informasi: Pendekatan Global. Jakarta:PT.Elex Media Komputindo
• Pramanto, Agung. (2004). Liputan Utama: Apa Sih Katalog dan Sistem Pengindeksan Pasca Laras Itu? (http://www.geocities.com/red_ accesspoint/ arsipteori.htm).
• Soedradjat, S. (2003). Sistem Informasi Manajemen. Jakarta:Pusat Penerbitan Univ. Terbuka.
• Sunindyo, Wikan Danar. Penggunaan Data Warehouse dalam Pengelolaan Data Perusahaan. Jurnal Informatika Volume 1. Nomor 2 Mei Tahun 2002. (Artikel) 7.
• (http://oasis.harvard.edu/
• (http://www.xanga.com/skin.asp?user=Irma2002

Sabtu, 09 April 2011

MODUL INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PERSPEKTIF BUDAYA DAN ORGANISASI

Rangkuman

Manusia tidak dapat hidup sendiri, tetapi memerlukan bantuan orang lain. Selain itu mereka juga selalu ingin dianggap dan diperhitungkan oleh anggota kelompoknya. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan sebagai karakteristik dari pengertian komunikasi, yaitu:
• Komunikasi tidak mungkin dihindari;
• Komunikasi sebagai suatu proses;
• Komunikasi mempunyai tujuan dan dilakukan secara sengaja;
• Komunikasi memerlukan partisipasi;
• Komunikasi bersifat simbolis;
• Komunikasi bersifat transaksional;
• Komunikasi tidak dibatasi waktu dan ruang.
Unsur-unsur dalam komunikasi adalah adanya sumber, pesan, saluran atau media, penerima, dan gangguan. Sedangkan tujuan komunikasi dapat dilihat dari kepentingan sumber, kepentingan sosial, serta kepentingan individual. Fungsi komunikasi mencakup pengawasan, sosialisasi, propaganda atau korelasi, motivasi, pengungkapan emosional, dan informasi. Adapun bentuk komunikasi dapat berbentuk ke bawah, ke atas dan searah.

Dalam berkomunikasi akan menghadapi berbagai macam kendala yang disebabkan manusia itu sendiri, alat yang digunakan, pihak komunikan serta gangguan alam, misalnya adanya suara petir. Kendala yang lain dari komunikasi dapat berbentuk kendala bahasa, emosi dan penyaringan.



Peran Komunikasi dan Informasi dalam Aspek Budaya dan Sosial

Rangkuman
Pada saat anggota masyarakat berinteraksi, maka akan terjadi suatu komunikasi di antara mereka di mana pada saat itulah kebiasaan, norma dan nilai dari anggota masyarakat dibagikan dan disebarluaskan di kalangan mereka.
Budaya yang berbeda-beda antara kelompok yang satu dengan yang lain akan menyebabkan perbedaan persepsi terhadap suatu objek komunikasi. Selain itu kebudayaan juga mengajarkan tata cara komunikasi. Komunikasi berfungsi mentransmisikan nilai budaya dari suatu kelompok ke kelompok lain atau dari suatu generasi ke generasi berikutnya.

Daftar Pustaka
• Lucas, Henry C. (1994). Information Systems Concept for Manajement. San Francisco. Mitchelll McGraw-Hill.
• Susanto, Astrid S.(1982). Komunikasi Kontemporer. Bandung: Bina Cipta.
• The Liang Gie (1992). Administrasi Perkantoran Modern. Yogyakarta: Liberty.
• Toha, Muharto (2002). Perilaku Organisasi. Jakarta: Universitas Terbuka.
• Widjaja, AW.(1988). Ilmu Komunikasi: Pengantar Studi. Jakarta: PT Bina Aksara.
• Curtis, Dan B. Dkk (1996). Komunikasai Bisnis dan Profesional. Bandung: PT. Rosda Jayaputra.
• Mitchell, Charles (2001). Memahami Budaya Bisnis Internasional. USA: World Trade Press.
• Robbins, Stephen (1996). Perilaku Organisasi: Konsep, Kontroversi, Aplikasi. Jakarta: PT Prenhallindo.
• Sendjaja, S. Djuarsa (2003). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

PENGANTAR ILMU ADMINISTRASI

Pelayanan Publik (Public Service)

1. Dalam arti yang sempit, pelayanan publik adalah suatu tindakan pemberian barang dan jasa kepada masyarakat oleh pemerintah dalam rangka tanggung jawabnya kepada publik, baik diberikan secara langsung maupun melalui kemitraan dengan swasta dan masyarakat, berdasarkan jenis dan intensitas kebutuhan masyarakat, kemampuan masyarakat dan pasar. Konsep ini lebih menekankan bagaimana pelayanan publik berhasil diberikan melalui suatu delivery system yang sehat. Pelayanan publik ini dapat dilihat sehari-hari di bidang administrasi, keamanan, kesehatan, pendidikan, perumahan, air bersih, telekomunikasi, transportasi, bank, dsb. Tujuan pelayanan publik adalah menyediakan barang dan jasa yang terbaik bagi masyarakat. Barang dan jasa yang terbaik adalah yang memenuhi apa yang dijanjikan atau apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan demikian pelayanan publik yang terbaik adalah yang memberikan kepuasan terhadap publik, kalau perlu melebihi harapan publik.

2. Dalam arti yang luas, konsep pelayanan publik (public service) identik dengan public administration yaitu berkorban atas nama orang lain dalam mencapai kepentingan publik (Perry, 1989). Dalam konteks ini pelayanan publik lebih dititik beratkan kepada bagaimana elemen-elemen administrasi publik seperti policy making, desain organisasi, dan proses manajemen dimanfaatkan untuk mensukseskan pemberian pelayanan publik, dimana pemerintah merupakan pihak provider yang diberi tanggung jawab. Buku Denhardt yang berjudul The Ethics of Public Service (1988) merupakan contoh dari pandangan ini, dimana pelayanan publik identik dengan administrasi publik yang merupakan bagian dari manajemen ilmu pemerintahan.
Dalam dunia pelayanan publik, etika diartikan sebagai filsafat dan profesional standards (kode etik), atau moral atau right rules of conduct (aturan berperilaku yang benar) yang seharusnya dipatuhi oleh pemberi pelayanan publik atau administrator publik. Berdasarkan konsep etika dan pelayanan publik di atas, maka yang dimaksudkan dengan etika pelayanan publik adalah suatu praktek administrasi publik dan atau pemberian pelayanan publik (delivery system) yang didasarkan atas serangkaian tuntunan perilaku (rules of conduct) atau kode etik yang mengatur hal-hal yang “baik” yang harus dilakukan atau sebaliknya yang “tidak baik” agar dihindarkan.
Perry, James L. 1989. Handbook of Public Administration. San Fransisca, CA: Jossey- Bass Limited.
Denhardt, Kathryn G. 1988. The ethics of Public Service. Westport, Connecticut: Greenwood Press.
http://budiutomo79.blogspot.com/2007/11/etika-dalam-pelayanan-publik.html


A. DEFINISI PELAYANAN PUBLIK.
3. Pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah di pusat, di daerah, dan lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam bentuk barang dan jasa baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan perundang-undangan.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Pada hakekatnya pembangunan nasional suatu bangsa dilaksanakan oleh masyarakat bersama pemerintah, masyarakat adalah pelaku utama pembangunan, sedangkan pemerintah berkewajiban untuk mengarahkan, membina serta menciptakan suasana kondusif yang menunjang kegiatan rakyatnya.
Kegiatan masyarakat dan pemerintah tersebut harus saling mengisi, saling menunjang, dan saling melengkapi dalam suatu kesatuan langkah menuju tercapainya suatu tujuan pembangunan nasional suatu bangsa.
Pemberian pelayanan umum oleh aparatur pemerintah kepada masyarakat adalah merupakan perwujudan dari fungsi aparat negara, agar terciptanya suatu keseragaman pola dan langkah pelayanan umum oleh aparatur pemerintah perlu adanya suatu landasan yang bersifat umum dalam bentuk pedoman tata laksana pelayanan umum. Pedoman ini merupakan penjabaran dari hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam prosedur operasionalisasi pelayanan umum yang diberikan oleh instansi pemerintah baik di pusat maupun di daerah secara terbuka dan transparan.
http://www.explore-indo.com/layanan-publik/48-layanan-publik/174-pelayanan-publik-bagian-1.html


Contoh pelayanan publik dan hubungannya antara penyelanggara pelayanan publik dan penerima pelayanan publik.
- Masyarakat umum

1. Siaran televisi : bagi penyelenggara seperti RCTI, SCTV atau Metro TV siaran televisi sangat berguna karena dapat menjadi mediasi mereka untuk menyiarkan jasa mereka dan bagi penerima layanan seperti masyarakat umum sangat bermanfaat sekali untuk mendapatkan pengetahuan, berita atau hiburan. Dan hubungannya saling menguntungkan satu dengan yang lainnya.

2. Akses internet murah : sangatlah menguntungkan bagi kedua belah pihak antara penyelanggara dan penerima layanan, seperti : memudahkan lajur informasi yang sedang berkembang sekarang dan menjadikan masyarakat kaya akan informasi yang terbaru.
Warga Negara

3. Pembuatan (KTP,SIM,KK) : bagi penyelenggara pelayanan mendapatkan tambahan sumber devisa dari pelayanan publik berupa Pendapatan Negara Bukan Pajak ( PNBP ) dan bagi penerima pelayanan memenuhi kewajibannya sebagai warga negara yang taat terhadap peraturan yang berlaku.
4. Pembuatan paspor dan visa : sangat menguntungkan karena dapat memberikan masukan devisa bagi negara dan mendata setiap warga negara. Bagi penerima pelayanan diberlakukan keresmian akan warga negaranya.

- Kelompok kepentingan

5. Mudik bareng Honda : pelayanan publik yang mengkhususkan kepada pengguna sepeda motor Honda. Bagi pemberi layanan menjadikan merk dagangnya terkenal dan memnuhi kewajibannya di bidang social dan bagi penerima layanan medapatkan keselamatan di jalan dan keteraturan dalam berkendara agar selamat sampai tujuan.

6. Penghijauan pohon dan seminar lingkungan : Pelayanan publik yang di lakukan oleh seluruh elemen masyarakat dan pemerintah dalam bidang lingkungan hidup. Hubungan keuntungan bagi pemberi layanan adalah mengisyaratkan bahwa lingkungan hidup kita sudah seperti ini dan memberikan ruang waktu bagi kelompok kepentingan yang peduli terhadap lingkungan. Bagi penerima layanan menjadikan tempat atau ajang menuangkan kepeduliannya terhadap lingkungan hidup dan membantu pemerintah mengatasi masalah yang terjadi.
Afiliasi

7. Makelar properti : Pelayanan yang diberikan oleh agen-agen tertentu atau perorangan yang memudahkan dalam rangka jual-beli properti. Hubungannya saling menguntungkan diantara kedua belah pihak antara pemberi dan penerima layanan. Bagi pemberi layanan menjadikan suatu lapangan kerja baru dan mendapatkan profit atas tindakan tersebut. Bagi penerima layanan membantu mereka mempercepat dalam penjualan dan pembelian properti.

8. Calo dalam pembuatan SIM : Pelayanan yang diberikan oleh calo sebagai pemberi layanan sangat menguntungkan dengan penerima layanan karena dapat mempercepat tindakan pembuatan SIM yang nyatanya jika dilakukan sesuai prosedur memakan waktu yang relatif lama dan biaya yang tidak sesuai dengan prosedur kenyataannya, tetapi bagi pemerintah sangat merugikan karena banyak tindakan koruptif yang semakin membudaya padahal tindakan tersebut ada di salah satu lembaga yang nyatanya sebagai penegak hukum.








Disusun dan ditulis oleh : VERRY MARDIYANTO / 04936

LOMBA MENULIS NASIONAL UNTUK REMAJA 2010 Tema Lomba : Realita Budaya di Mata Anak Judul Lomba : Pengaruh Globalisasi Terhadap Budaya Anak Bangsa

Berawal dari banyak permasalahan budaya bangsa kita dan hampir semuanya kita sudah mengetahui bagaimana permasalahan budaya bangsa kita dari masalah kecil hingga masalah besar dan dari masalah lama yang belum diselesaikan hingga muncul kembali masalah baru yang awalnya dari kompilasi masalah lama atau masalah baru itu muncul sesuai kenyataannya (alamiah). Betapa beratnya menyelesaikan semua itu, tapi kita sebagai bangsa yang besar, berlimpah sumber daya baik alam maupun manusia seharusnya kita bisa menyelesaikannya. Bersatu adalah cara yang tepat, tapi terlintas kata di hati kita, ya mungkin kata menyelesaikan itu jauh dari harapan kita namun kita sudah berupaya menghambatnya untuk tidak menjadikan masalah itu tambah parah! Akan tetapi kita jangan hanya berfikir sampai disitu saja, masih banyak cara mengatasinya. Jika kita hanya berhenti disitu saja, bagaimana nasib anak cucu bangsa kita nanti ? masa depan pastilah akan gelap, permasalahan selau diwariskan dari generasi orang tuanya dan menimbulkan masalah kembali. Maka oleh karena itu, kita sebagai generasi sekarang harus menyelesaikan masalah itu secara sedikit demi sedikit. Walaupun sudah dijelaskan diatas, bersatu adalah cara yang sekarang patut dipakai. Kita jangan hanya diam tetapi kita haruslah bergerak, kita tak mau bangsa kita diisikan masalah lagi kan! Berusahalah menyelesaikannya anak bangsa!

Berbagai kondisi atau masalah dimasyarakat baik yang belum datang, sedang dihadapi hingga masalah yang diwariskan turut menjadi andil dalam kehidupan berbangsa dan berbudaya kita, kita tahu masalah itu, seperti : korupsi, kemiskinan, kekerasan, kenakalan remaja, anak gizi buruk, banjir, climate change atau perubahan iklim, upaya tanggap darurat dalam bencana alam, kasus Reog Ponorogo dan tari Pendet hingga masalah budaya lainnya yang sampai sekarang belum terselesaikan serta pengaruh globalisasi dan westernisasi yang semakin berpengaruh di semua bidang kehidupan. Penulisan ini akan mengambil permasalahan tentang bagaimana pengaruh globalisasi terhadap kehidupan anak bangsa baik di kota maupun di pedesaan dan bagaimana akibatnya serta bagaimanakah kita sebagai anak bangsa yang nantinya menjadi pemimpin bangsa ini di masa depan menyelesaikannya ? ya salah satunya dengan bekal pendidikan dari bapak dan ibu guru kita, kita belajar dari Taman Kanak - Kanak hingga ke Perguruan Tinggi tidak hanya kewajiban kita sebagai manusia saja untuk belajar akan tetapi bagaimana kita bisa memanfaatkan bekal pendidikan tersebut, walaupun kita saat belajar malas-malasan, bandel tingkah laku kita hingga pelajaran yang diberikan oleh ibu - bapak guru kita, kita abaikan begitu saja. Ya mungkin dahulu kita banyak belum mengerti akan kegunaannya dan masih menikmati masa kanak - kanak kita yang penuh dengan segala macam permainan. Akan tetapi, sekarang kita sudah remaja dan bahkan sebentar lagi kita menjadi dewasa, nah sekaranglah kita harus mulai berangan angan memecahkan masalah tersebut, dari kita berangan angan hal yang kecil, seperti : bagaimana nih nanti masa depan kita ? misal : ah nanti aku mau jadi seorang pemain bulu tangkis yang hebat seperti Taufik Hidayat ah atau aku ingin jadi presiden ah. Ya semua angan - angan itu boleh kita impikan dan menjadi pemacu semangat kita buat belajar dan akhirnya kita berguna untuk bangsa Indonesia yang tercinta ini.

Kita tahu cita - cita harus ditempuh setinggi langit akan tetapi jangan sampai angan - angan kita itu terputus oleh perubahan budaya yang semakin modern ini. Di era globalisasi ini sudah banyak budaya leluhur kita yang hampir hilang dimakan zaman sebagai contoh kecil mengenai permainan yang identik dengan anak-anak, seperti : kita tahu dahulu saat kita masih kanak - kanak permainan tradisional masih sering kita lakukan bersama tanpa mengenal lelah dan bermain bersama tanpa mengenal perbedaan Suku Ras dan Agama Maupun Bangsa. Kita bermain berbaur satu sama lain dan dengan rasa yang amat senang dan bahagia, tetapi di zaman sekarang kita bisa lihat anak - anak di perkotaan permainan tradisional sudah hampir tiada dan digantikan dengan sebuah kecanggihan alat yang kian mengglobal dan dipenuhi dengan fasilitas yang semakin modern serta amat canggih seperti PSP, Play Station, Game Online dan permainan canggih lainnya, banyak orang tua anak yang berpikir jika mereka memainkan permainan tradisional sangat lelah untuk anaknya dan gengsi akan statusnya tapi banyak anak yang masih menginginkan permainan tradisional untuk memainkannya tetapi tidak boleh diijinkan oleh orang tuanya, mungkin pertama takut berbahaya ataupun gengsi akan permainan itu sendiri atau bahkan takut anaknya bergaul dengan anak yang tidak mampu dan sering kali anak yang tidak mampu itu diasumsikan anak jalanan atau anak yang liar, orang tuanya takut anaknya menjadi ikut - ikutan akan segala hal buruk yang mungkin anak itu lakukan. Tetapi memang tugas orang tua mengawasi anaknya baik dari seluruh perilakunya di masyarakat dan dilingkungan keluarganya tetapi anak itu harus secara tidak langsung diberikan kebebasan akan keinginannya untuk bermain, jangan selalu dikekang keinginnanya. Jika terus menerus dikekang malahan nanti akan terjadi pergolakan emosinal si anak tersebut, kita tahu bahwa pada umur kanak - kanak bermain adalah hal yang tepat dan wajib untuk perkembangan si anaknya baik emosional dan pikiran kreatifnya juga sangat bermanfaat untuk saling mengenal antar sesamanya dan menjadikan tempat untuk mengembangkan kecerdasan perilakunya.

Akan tetapi coba kita bayangkan dan perbandingkan dengan di pedesaan, anak-anak desa bermain secara tradisioanal dan masih menjunjung tinggi nilai kegotongroyongan dan kebersamaan. Mereka tidak bermain dengan permainan yang berbau teknologi, mereka hanya bermain dengan permainan yang telah bertradisi turun temurun antar generasi di desanya dan kebanyakan permainan tersebut banyak yang menggunakan dari bahan yang telah ada disekitarnya seperti permainan bola gebok bolanya bisa dari tumpukan sampah daun yang dibuat seperti bola dan diikat dengan kulit pohon lalu alur permainannya juga sederhana. Tetapi bukan dari permainannya yang kelihatan simple dan sederhana, banyak perilaku yang bisa kita ambil dari permainan tersebut dari nilai - nilai kegotongroyongan dan kebersamaan yang kuat serta adat istiadat dan tradisi yang selalu dijunjung erat. Mereka tidak bosan - bosannya bermain permainan tersebut bahkan selalu dikembangkan dan permainan baru pun muncul.

Nah, Kita tahu sekarang bagaimana perbedaannya yang mencolok antara anak perkotaan dan anak pedesaan di bidang permainannya, anak kota identik dengan teknologi yang semakin canggih dan terkesan mahal sedangkan anak desa identik dengan sederhana dengan permainan yang apa adanya dan berbau alam, tetapi dari perbedaan itu kita bisa mengambil suatu amanat dan suatu kesuriteladanan yang sangat bermaanfaat bagi kehidupan kita, seperti : di desa, anak-anak disana bermain dengan saling keakrabannya, kebersamaannya dan terlihat tali persaudaraannya sangat kental, teladan tersebut dapat diambil dan harus selalu diwariskan ke anak cucu kita, mengapa ? Sebab keutuhan bangsa dan pemerataan hak dan kewajiban dalam membangun bangsa ini sangatlah dibutuhkan, serta kita sudah tahu diatas tentang bagaimana menyelesaikan masalah budaya bangsa dengan bersatu, kita ambilah kebersamaan dan persaudaraan yang digambarkan oleh anak-anak desa diatas sebagai cara dan motivasi kita membangun bangsa ini dan manfaat untuk kehidupan juga bisa kita ambil dari perilaku kehidupan di kota yang diibaratkan permainan juga, memang kecanggihan teknologi masa kini kian waktu kian cepat sekali, dan anak-anak diperkenalkan teknologi tersebut sangatlah membantu bangsa ini yang semakin bersaing terhadap bangsa lainnya, kita sudah tahu anak bangsa adalah modal utama kita untuk membangun negeri ini dan dengan perkenalan dini teknologi terhadap anak adalah cara yang tepat, tidak hanya itu saja bangsa kita bisa melahirkan anak-anak yang profesinalitas terhadap suatu bidang dikarenakan bidang tersebut sudah diperkenalkan sejak dini dan lambat laun menjadi hobi dan akhirnya anak itu belajar sesuai yang ia inginkan dan menjadikan bidang itu ahlinya dan profesionalnya, ya kalau di Negara kita mungkin hanya sedikit saja pendidikan yang sesuai dengan minat anaknya, kita tahu di pelajaran SD atau SMP pelajaran sekolah banyak sekali, bagaimana dengan si anak mempelajarinya dengan tekun agar semua mata pelajaran tersebut mendapatkan nilai yang mempuaskan? Pengalaman kita semua kalau kita belajar dengan mata pelajaran yang tidak kita senangi maka nilai mata pelajaran tersebut pasti buruk dan sebaliknya jika mata pelajaran tersebut sangat kita sukai maka nilai tersebut akan bagus. Ya bisa kita ambil kesimpulan dari penjelasan diatas anak hanya bisa belajar sesuai kemampuannya, jika ia mampu di mata pelajaran A maka nilai anak tersebut akan bagus dan jika ia tidak menyukai mata pelajaran tersebut maka nilainya akan buruk. Kita kan tidak tahu setiap anak itu IQS nya. Ada yang tinggi, sedang atau bawah. Jadi setiap anak itu berbeda - beda dalam menerima suatu hal atau bidang yang sedang dipelajarinya. Dengan pengenalan teknologi secara dini maka si anak dapat mudah menguasainya di masa depan nanti dan jika anak tersebut sangat menyukai teknologi tersebut bahkan manjadi hobi maka akan ada seorang professional di bidangnya. Ya mungkin manfaat dari ibarat permainan anak kota diatas hanya itu saja yaitu dari kecanggihan teknologi yang membuat anak itu mengenalnya dan akan menjadikannya ia seorang yang profesional.

Dari kedua manfaat tersebut jika kita gabungkan menjadi satu maka akan menjadikan bangsa ini yang kuat dan tangguh di segala bidang. Maka oleh sebab itu dan sudah dijelaskan diatas kita harus bersatu di segala perbedaan yang terjadi, ya akhir lambat laun budaya kita yang akan hilang seperti kegotongroyongan menjadi tumbuh kembali dikarenakan persatuan tersebut dan persaingan teknologi yang sedang gencar-gencarnya diseluruh belahan dunia ini membuat kita bangsa menjadi lebih percaya diri dan kita pasti bisa mengikuti perkembangan teknologi yang terjadi.
Demikian penulisan dan pembahasan mengenai Pengaruh Globalisasi Terhadap Budaya Anak Bangsa. Semoga bisa menjadi inspirasi dalam membangun negeri ini dan tetap semangat untuk bangsa Indonesia juga jangan pantang menyerah anak Indonesia dalam meraih cita-cita mu.
Bersatu kita padu bercerai kita runtuh.


Oleh : VERRY MARDIYANTO

5 Permasalahan Budaya dan Analisa Saya

5 permasalahan yang harus di analisis sesuai dengan pemahaman Anda dan pertanyaannya, bagaimana seharusnya sikap yang perlu diterapkan bangsa Indonesia?
Berikut 5 masalah dan analisinya :

1. Masyarakat etnik Indonesia tidak mampu memanfaatkan dialog dengan kebudayaan barat. Kebanggaan akan diri sendiri yang kemudian mengungkung dan mengurung, sehingga memunculkan sikap tertutup, tidak egaliter dan tidak demokratis. Gejala ini berlaku secara umum, kecuali beberapa suku seperti masyarakat Minangkabau.
Analisa terhadap masalah tersebut adalah perbedaan pendapat saya di bagian “Gejala ini berlaku secara umum, kecuali beberapa suku seperti masyarakat Minangkabau” itu tidak benar, mengapa? Karena kenyataannya sekarang banyak suku di Indonesia tidak sesuai dengan masalah diatas yang mengartikan tidak lain bahwa “Masyarakat etnik Indonesia tidak mampu memanfaatkan dialog dengan kebudayaan barat. Kebanggaan akan diri sendiri yang kemudian mengungkung dan mengurung, sehingga memunculkan sikap tertutup, tidak egaliter dan tidak demokratis” itu tidak terbukti di suku yang dominannya sering dikunjungi wisatawan (pelancong) baik mancanegara ataupun domestik. Contoh di Bali, suku-suku disana sudah terbiasa sejak zaman dahulu saling bertenggang rasa dan toleransi terhadap budaya yang masuk ke daerahnya, bahkan suku-suku disana bisa membuat budaya bangsa kita memancanegara dengan seni-seninya, dan seni yang paling terkenal adalah seni tarinya.
Kebanggaan akan diri sendiri yang kemudian mengungkung dan mengurung, sehingga memunculkan sikap tertutup, tidak egaliter dan tidak demokratis itu terjadi ketika sektor pariwisata kita belum optimal menjadi salah satu pendapatan negara dan pekerjaan masyarakat setempat. Sekarang pemerintah bersinergi dengan LSM setempat untuk mengembangkan kebudayaannya dengan cara mewariskan budaya yang dimiliki suku tersebut dan mendemokannya ke khalayak luas melalu (pemerintah) Kemenbupar agar senantiasa budayanya tersebut diakui dan menjadi cirri khasnya daerah dan suku tersebut. Kembali ke pertanyaannya, sikap yang harus diterapkan bangsa ini adalah memberi masukan, pendidikan dan terutama sosialisasi secara personal dari pemerintah/LSM (yang berkaitan dengan budaya) langsung kebawah (topik tujuannya yaitu suku-suku yang masih dimasalahkan dalam masalah ini). Lalu untuk mendukung tersebut digunakan cara keluar yang dilakukan pemerintah yaitu dengan pembelajaran ke masyarakat luas tentang budaya barat dan globalisasi sekarang untuk mewawaskan tentang bagaimana agar budaya kita tetap eksistensi dan bersaing dengan budaya luar.

2. Kebanggaan berlebihan terhadap budaya sendiri sehingga menimbulkan kecenderungan, meremehkan dan menganggap etnik lain sebagai pesaing (kecemburuan budaya). Misalnya: sikap tidak mau kalah orang Minang terhadap orang Jawa. Hal ini akan menjadi penghalang bagi dialog antar budaya.
Analisi terhadap masalah ini adalah sebagai berikut :
Masalah budaya yang digambarkan di masalah tersebut adalah berkaitan dengan budaya lokal yang berbentrok dengan budaya lokal lainnya dan masih dalam satu payung bangsa Indonesia. Contoh lain selain orang Minang terhadap orang Jawa adalah Orang Madura dengan Orang Kalimantan dan Agama Islam terhadap Agama Kristen di daerah Poso. Beberapa kasus tersebut memang didasari rasa cinta yang berlebih terhadap budaya sendiri, memang bagus untuk menjaga eksistensi budaya sendiri tetapi dapat memunculkan rasa ketidakharmoniasan dalam berSARA (Suku, Agama, Ras) dan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan rasa Pancasila.
Konflik yang terjadi dalam masalah tersebut sering kali timbul dari hal yang biasa dan menjadi besar ketika sudah lama ada, maka dari itu tahap pertama yang harus dilakukan untuk mencegah dan bahkan menghilangkan masalah tersebut adalah dengan cara mensosialisasikan dengan benar dan mendalam terhadap siapapun yang ingin pergi ke suatu daerah yang keadaan daerah itu memang berbeda dengan daerah asalnya. Lalu tahap berikutnya dengan memberi pelajaran yang jelas (menyangkut ketatakramaan, dan kewarganegaraan) ke setiap suku-suku yang ada agar suku-suku tersebut dapat menumbuhkan rasa toleransi beragama, berkehidupan dan berkepribadain terhadap budaya yang masuk dari luar. Suatu ketika jika konflik itu sudah terjadi, bagaimana bersikapnya? Dengan cara tindakan bermusyawarah, mengapa? Karena musyawarah dapat membuat keadaan menjadi tenang dan akhirnya dapat memecahkan masalah yang timbul diantara kedua suku tersebut, lalu siapakah yang menengahkan itu? Pemerintah dan LSM(yang berkaitan dengan budaya) menjadi tonggak utama untuk menengahkan itu, mereka dijadikan itu karena memang tugas mereka menjaga kestabilan di masyarakat dalam konteks budaya. Dialog antarbudaya terjadi jika suatu suku yang berkomunikasi dengan suku lainnya tidak mengalami permasalahan dan berkehidupan harmonis, maka sikap diatas dapat dilakukan agar dialog antarbudaya tetap terjaga dan jika terjadi masalah dapat diselesaikan dengan baik.

3. Sikap imperatif budaya negara kebangsaan telah mengakibatkan pergeseran budaya yang jauh. Contoh dari hal ini, bahasa nasional yang menjadi sangat penting mulai mendesak mundur bahasa-bahasa daerah.
Analisisnya mengenai penggunaan bahasa, lebih jelasnya sebagai berikut :
Pandangan terhadap masalah ini berbeda-beda, tetapi saya lebih memilih menyeimbangkan bahasa nasional dan bahasa daerah yang menjadi pionir pemersatu bangsa. Namun dilihat dari bahasa daerah yang di desak mundur oleh bahasa nasional memang sudah nyata itu ada karena rasa nasionalisme bangsa Indonesia dan juga pergerakan teknologi pengetahuan yang semakin kompleks di masyarakat.
Bahasa-bahasa daerah memang sudah ada sejak suku-suku di Indonesia itu ada dan menjadikannya komunikasi vital yang dipergunakannya antara anggota suku tersebut, sedangkan bahasa nasional kita ada, ketika suku-suku di Indonesia bersatu dan memproklamasikan dirinya menjadi bangsa Indonesia yang utuh, tidak kemungkinan lambat laun yang menjadi bahasa utama kita yaitu bahasa Indonesia mengambilalih bahasa-bahasa yang ada di dalam negeri ini, tetapi jangan dilihat dari segi buruknya, bahasa nasional yang mendesak mundur bahasa daerah, bahasa nasional kita ini merupakan bahasa pemersatu bangsa “satu nusa satu bangsa satu bahasa kita”. Bahasa nasional ini memiliki arti yang begitu dahsyat dalam mempersatukan bangsa dari berbagai suku-suku yang ada di Indonesia, buktinya bisa kita lihat di kehidupan sehari-hari.
Masalahnya adalah bahasa daerah yang di desak mundur oleh bahasa nasional? Bagaimana cara mengatasinya dan menyeimbangkan kedua bahsa tersebut agar menjadi kesatuan yang semakin erat dan menjadi ciri khas bangsa kita? Jawabannya adalah dengan memberi kebebasan setiap individu untuk berbahasa daerahnya ketika nonformal antar sesama daerah tersebut, mengapa nonformal? Karena jika formal yang diwajibkan oleh pemerintah adalah bahasa nasional dan tempat yang paling tepat adalah nonformal (keseharian masyarakat). Lalu berikutnya dengan regulasi pemerintah lewat Kemendiknas yang sekarang sudah ada kurikulumnya untuk mempelajari bahasa daerahnya masing-masing di setiap wilayahnya. Kurikulum ini menjadikan anak-anak sekolah dapat mempelajari bahasa daerahnya dengan seksama dan sesuai dengan kepribadian daerahnya tersebut. Berikutnya sikap yang harus dilakukan oleh bangsa ini adalah memberi arti kepada masyarakat dengan kenyataan bahwa bahasa daerah kita merupakan ciri khas daerahnya masing-masing dan dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari disamping mempergunakan bahasa Indonesia lalu sebagai bangsa yang besar harus menjunjung rasa toleransi dalam berbahasa agar bahasa nasional dan
daerah itu seimbang.

4. Sangat menonjolnya pengaruh budaya Jawa dalam kehidupan masyarakat kita sebagai negara bangsa yang sangat rentan akan “kecemburuan budaya” terutama bagi etnik yang juga peranannya sangat dalam membangun negeri ini.
Analisi saya mengenai masalah budaya Jawa yang sangat menonjol dalam membangun negeri ini di bandingkan dengan budaya lain yang juga berperan adalah
Budaya Jawa memang sudah kuat di negeri ini dalam membangun bangsa karena ibu kota bangsa ini berada di Jakarta (masih dalam pulau Jawa) dengan kata lain budaya Jawa sangat kental didalamnya. Coba ibu kota negeri ini berada di luar pulau Jawa maka tidak dipungkiri budaya-budaya yang menjadi tanah ibu kota tersebut sangat dominin dalam membangun bangsa ini. Jangan kita andai-andaikan tetapi bagaimana caranya agar semua itu seimbang, tidak ada kata budaya jawa yang dominan atau budaya lainnya. Membahas tentang kenyataan sekarang sudah banyak bibit unggul daerah yang sudah mulai untuk bertindak membangun bangsa, mereka berbondong-bondong ke pusat dan bekerja untuk daerahnya, yang dimaksud adalah sudah ada perwakilan setiap daerah di MPR untuk berfikir membangun bangsa secara bersama-sama, kenyataan ini belum terjadi saat masa presiden Soeharto, namun setelah reformasi secara besar-besaran dan hak-hak daerah diberi kewenangan luas (otonomi daerah) membuat setiap daerah berkembang sesuai kemampuannya dalam membangun bangsa ini.
Sikap kita sebagai bangsa untuk menyikapi masalah diatas adalah dengan memberi peluang bagi budaya lain (orang luar di P. jawa) untuk membangun bangsa ini, maksudnya adalah budaya luar tersebut sangat diperbolehkan membangun bangsa ini dengan cara budaya luar tersebut di pakai dalam berbagai acara bangsa, contohnya : budaya bali yang sudah mendunia dapat dijadikan ciri khas di mata dunia untuk dijadikan warisan budaya bangsa Indonesia, wakatobi perairan yang di kenal sebagai taman diving terkenal dunia dapat dijadikan tempat untuk berwisata selam dan penyelamatan terumbu karang dunia juga sebagai ekosistem yang ditempatkan untuk warisan masa depan. Semua itu tidak terlepas dari tangan budaya daerah setempat tersebut, karena jika tidak ada norma budaya yang mengatur hal itu maka kemungkinan akan terjadi kerusakan dan kepunahan budaya yang mengakibatkan bangsa ini menjadi miskin budaya dan akibatnya terhadap bangsa adalah stagnya bahkan mundurnya dalam membangun bangsa ini. Sikap yang paling tepat diambil pemerintah adalah kebijakannya yang dibuat harus sesuai denagn demokrasi secara nasional, artinya setiap kebijakan membangun bangsa harus sangat memperhatikan budaya-budaya daerahnya masing-masing serta dari itu dapat dijadikan pemersatu antar budaya jawa yang masih dominan dengan budaya daerah lainnya untuk saling bersinergi dalam membangun bangsa ini.

5. Sikap persimpangan jalan dari generasi muda diantara pengagungan akan tradisi lama dengan fenomena yang sedang mereka hadapi.
Analisis masalah ini lebih mengarah ke generasi muda yang sudah mulai meninggalkan tradisi lama dengan mengalih ke tradisi modern.
Generasi muda memang mempunyai cara sendiri dalam menilai budaya tetapi yang dipermasalahkan dalam masalah tersebut adalah sikap yang meninggalkan tradisi lama dan menuju ke tradisi baru. Tradisi baru atau modern mencakup seluruh bagian kehidupan, bagian tersebut dimulai dari bahasa, tingkah laku, adat istiadat, pengetahuan dan lain sebagainya yang telah mengubah keadaan semakin maju dan modern. Keadaan ini memang sangat dibutuhkan bangsa untuk bersaing terhadap arus globalisasi yang semakin meningkat, namun di balik itu semua tradisi lama kita semakin memudar dalam kesehariannya misal permainan tradisi digantikan dengan permainan teknologi, contohnya permainan sepak bola di lapangan terbuka berubah menjadi permainan fotsal di lapangan penyewaan, permainan petak umpat digantikan dengan permainan PS. Itu semua terjadi karena globalisasi yang semakin menguat dan geografis yang semakin sempit. Dengan kata lain tempat untuk melakukan tradisi lama sudah beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan modern (mal).
Realita diatas tidak terjadi pada masyarakat pedesaan yang walaupun kenyataannya juga sudah hampir memudar tetapi rasa peduli terhadap tradisi lama masih dijunjung tinggi, seperti adat pertunjukkan wayang yang masih terpelihara di desa-desa, acara bersih-bersih desa dilakukan serentak secara sukarela dan bersama-sama untuk menjadikan desanya bersih.
- Berikut pendapat saya dalam LOMBA MENULIS NASIONAL UNTUK REMAJA 2010 dengan tema: Realita Budaya di Mata Anak dan judul : Pengaruh Globalisasi Terhadap Budaya Anak Bangsa. Pendapat ini mendukung dari analisa masalah kelima tersebut.
Kita tahu cita-cita harus ditempuh setinggi langit akan tetapi jangan sampai angan-angan kita itu terputus oleh perubahan budaya yang semakin modern ini. Di era globalisasi ini sudah banyak budaya leluhur kita yang hampir hilang dimakan zaman sebagai contoh kecil mengenai permainan yang identik dengan anak-anak, seperti kita tahu dahulu saat kita masih kanak-kanak permainan tradisional masih sering kita lakukan bersama tanpa mengenal lelah dan bermain bersama tanpa mengenal perbedaan Suku Ras dan Agama maupun Bangsa. Kita bermain berbaur satu sama lain dan dengan rasa yang amat senang dan bahagia, tetapi di zaman sekarang kita bisa lihat anak-anak di perkotaan permainan tradisional sudah hampir tiada dan digantikan dengan sebuah kecanggihan alat yang kian mengglobal dan dipenuhi dengan fasilitas yang semakin modern serta amat canggih seperti PSP, Play Station, Game Online dan permainan canggih lainnya, banyak orang tua anak yang berpikir jika mereka memainkan permainan tradisional sangat lelah untuk anaknya dan gengsi akan statusnya tapi banyak anak yang masih menginginkan permainan tradisional untuk memainkannya tetapi tidak boleh diijinkan oleh orang tuanya, mungkin pertama takut berbahaya ataupun gengsi akan permainan itu sendiri atau bahkan takut anaknya bergaul dengan anak yang tidak mampu dan sering kali anak yang tidak mampu itu diasumsikan anak jalanan atau anak yang liar, orang tuanya takut anaknya menjadi ikut- ikutan akan segala hal buruk yang mungkin anak itu lakukan. Tetapi memang tugas orang tua mengawasi anaknya baik dari seluruh perilakunya di masyarakat dan dilingkungan keluarganya tetapi anak itu harus secara tidak langsung diberikan kebebasan akan keinginannya untuk bermain, jangan selalu dikekang keinginnanya. Jika terus menerus dikekang malahan nanti akan terjadi pergolakan emosinal si anak tersebut, kita tahu bahwa pada umur kanak-kanak bermain adalah hal yang tepat dan wajib untuk perkembangan si anaknya baik emosional dan pikiran kreatifnya juga sangat bermanfaat untuk saling mengenal antar sesamanya dan menjadikan tempat untuk mengembangkan kecerdasan perilakunya.
Akan tetapi coba kita bayangkan dan perbandingkan dengan di pedesaan, anak-anak desa bermain secara tradisioanal dan masih menjunjung tinggi nilai kegotongroyongan dan kebersamaan. Mereka tidak bermain dengan permainan yang berbau teknologi, mereka hanya bermain dengan permainan yang telah bertradisi turun temurun antar generasi di desanya dan kebanyakan permainan tersebut banyak yang menggunakan dari bahan yang telah ada disekitarnya seperti permainan bola gebok bolanya bisa dari tumpukan sampah daun yang dibuat seperti bola dan diikat dengan kulit pohon lalu alur permainannya juga sederhana. Tetapi bukan dari permainannya yang kelihatan simpel dan sederhana, banyak perilaku yang bisa kita ambil dari permainan tersebut dari nilai- nilai kegotongroyongan dan kebersamaan yang kuat serta adat istiadat dan tradisi yang selalu dijunjung erat. Mereka tidak bosan-bosannya bermain permainan tersebut bahkan selalu dikembangkan dan permainan baru pun muncul.
- Jadi sikap kita sebagai bangsa Indonesia haruslah bijak dengan keadaan sekarang namun haruslah memfilter keadaan modern ini dengan sesuai budaya yang kita miliki. Segala jenis pertunjukkan dan pariwisata budaya dapat mendorong kembali tradisi lama yang menghilang.

Rabu, 06 April 2011

TATA naskah DInas._SURAT

MAPAVOKSI
Mahasiswa Pecinta Alam Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Sekretariat : Gedung Sekolah Vokasi UGM, Yogyakarta 55281, Telp. 083898492728

Yogyakarta, 05 April 2011
No. : 01/AP/04/2011
Lamp. : 1 eks.
Hal : Permohonan Izin Pendirian Organisasi
Kepada Yth. : Direktur Kemahasiswaan
Universitas Gadjah Mada
Di Yogyakarta

Dengan hormat,

Sehubungan dengan status sekolah vokasi yang setara dengan fakultas dan sekolah pascasarjana lalu pentingnya organisasi kemahasiswaan untuk mengembangkan kreatifitas dan soft skill mahasiswa.

Maka dari itu kami selaku mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada bermaksud untuk mendirikan organisasi di bidang kepecintaalaman dengan nama MAPAVOKSI yang bernaung langsung di bawah manajemen sekolah vokasi.

Demikian surat permohonan ini kami buat, semoga menjadi bahan pertimbangan Bapak. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Ketua Umum Mapavoksi



Verry Mardiyanto
NIM : 10/298471/DSA/04936

Selasa, 05 April 2011

Laporan Kuliah Umum Nicools from bremen Jerman at UGM Sekolah Vokasi

JUdul Interview dan penelitian


Interview dalam penelitian digambarkan dalam slide research : Conceptual dan Empirical. Bagannya seperti berikut :
Research Question Hypotheses

Interpretation

Lingkupnya : peneliti, konsep, dan data
Pendapat saya tentang konsepsi peneliti dalam pembahasan ini adalah konsep peneliti menulis topik oleh pengguna dan metode refleksi sebagai argumennya.

* type dari penelitian, bagan:

Dalam bagan tersebut dinyatakan kuantitas dan kualitatif merupakan bagian data dari penelitian. Penelitian terbagi menjadi konsep spekulatif dan empiris.

- Contoh kualitas Research, cornerville (white, 1943)
~ Goal : To study the social organization of low-income neighboard,
~ Design : Single case study providing an in depth description of e low-income neighboard of itaalian-Americans in Bostoms,
~ Method : Participant observation, living in the neighboardhood and participating in the subjects’ lives for three and a half years,
~ Results : the gangs are hearirchically organized (and more details).

Dalam Owin Pltoon 2002, karakteristik dari kualitas penelitian, perbedaan antara kualitatif dan kualitas dalam penelitian :
Qualitatif Quantitative
* Design Strategies * Design strategy
- Naturalistic Inquary - Active manipulating
- Emergent design flexibility - Linear design
- Inductive approach - Deductive approach
- Purposfull smpling - Random sampling
- Descriptive - Explanatory
* Data Collection Strategy * Data collection strategy
- Verbal or visual data - Numerical data
- No constraiton measure - Constrain upon meassure
- Focus on process - focus on state
- Sensitive to constecs and historical dimenstion - Standardized situation
- Research instrumen - Standardized interactive

Beberapa catatan saya mengenai interview dalam kuliah umum tersebut
- In most general terms, an interview can be described as an conversation conducted with the purpose of gathering information,
- In the follow respect, however the interview differs from everyday.
Conversation :
- An interview take place in a controlled,
- One of the participants (the interviewer) has more or less scripted lines,
- The other participants (respondent) is supposed to do must of the talking.
Selanjutnya activity, tugasnya berkelompok dibagi menjadi 3 orang diantar teman sebangku dan bertema topik Japan.
Materi selanjutnya adalah bagaimana kita ketika interview?
- if you are interested in the facts, use questions makes etc. with closed-ended questions,
example : When did you start at Sekolah Vokasi?
- If you are interested in understanding the life situation of respondents, their perceptions, reasons, and the meaning they attach to events or actions, use type of interview that permits unconstrained measures
Example : 1. What is it like studying at Sekolah Vokasi?
2. Can you tell me more about why you choose study at Sekolah Vokasi?
3. And what happened after you complained?

Catatan selanjutnya yaitu :
Type of interview according to ….
1. Degree of standardization (degree of freedom for the respondent standardized, semi-standardized, non-standardized),
2. Kind of contact (face to face, telephone, email, etc.),
3. Number of interviewers (one person, tandem, panel),
4. Number of person being interviewed (individual group).

* type of interviews, degree of standardization
1. Standardized all participants are asked the some questions in the some orders,
2. semi standardized (guide interviews),
3. Non standardized (for instance, narrative, biographical).

- Standardized (formal) interview-pressuppositions.
- Research already knows enough about the research topic the be able to ask all the right questions,
- Each questions is equally meaning full to all participants,
- The meaning of each questions is identical for all participants.

Lalu penjelasan tentang “When use which interview?”
- The standardized interview,
- The guide interview,
- The non-standardized and informal interview.

How to devolep an interview guide, example : The use of traditional complementary and alternative medicine in Indonesia.


Which are the concepts and approachs that underlie women’s use of traditional complementary and alternative medicine in Indonesia.

And how to identify relevant subtopics?
- Literatur search and reading (deductive)
- Informal probing conversation with interested other person, experts, etc. (inductive).

How to devolep an interview guide? Example:
1. Subtopics
- Demography information,
- Religion,
- Method of treassment,
- Cultur aspect,
- Social/economic aspect.

How to devolep questions?
- Specify what it is you would like to hear about ….
- Think about how to get at this information!
- What kinds of question would be best! And how should they be phrased?

Aktifitas! Membuat subtopics dari topics bencana gempa dan tsunami Japan!

The narrative interview – general idea
- Personal experiences have the structure of narratives,
- Narratives rest upon natural discourse pattens,
- Narratives show the connection between events,
- Narratives show how public events are personally experienced.
+ to be used however you want to hear people’s stories about an event or about (parts) their lives.

What you do in a narrative interview?
- Other a stimulus questions in which you ask the respondent to tell his/her story about a specific topic,
- Ask as few questions as possible during the narrative just show that you are listening but signalize your understanding,
- Ask your questions once the main narrative has been told,
- Ask about gaps in the story, points that you did not understand,
- Ask about sdditionsl points that are of interest to you.

Kesimpulannya :
- Kita dapat mempelajari bagaimana seorang peneliti yang baik dan metode-metodenya,.
- Teori interview dari sudut pandang orang luar dan metodenya,
- Pertanyaan-pertanyaan yang tepat untuyk menguak suatu masalah,
- Penjabaran sub-topik yang berasal dari yopik yang sama membuat daya analisis bekerja,
- Interview dari berbagai teori dan cara pelaksanaan di lapangan membuat kita bertambah wawasan untuk bias dalam berinterview.

Jumat, 01 April 2011

ilmu itu dan UJIAN

Musim-musim Ujian,
semangat dan terus belajar.
cari nilai yang baik (jujur, berani dan percaya diri dalam mengerjakannya)