Wednesday, December 21, 2011

Fun Rafting @ Sungai Ello - Magelang



Fun Rafting untuk semua (Kantoran, Mahasiswa, Pelajar, Masyarakat Umum)
              Kami siap melayani Anda untuk bersenang - senang bersama teman, keluarga ataupun rekan kantor untuk mengisi waktu libur Anda di dunia arung jeram.
        Rasakan sensasi jeram di sungai Ello - Magelang dengan adrenalin Anda maka waktu libur Anda dapat lebih terkesan dan menambah pengalaman Anda.

Harga:
Rp. 725.000 nego  (1 TIM Perahu terdiri dari 5 atau 6 orang)
fasilitas: 1. Transportasi 
              2. Kelapa Muda dan Snack di Rest Area Ngarung
              3. Dokumentasi
              4. Makan Siang
              5. Rescue, Skipper, Perahu, Peralatan pengarungan


Ingin Ngarung !!!
Hubungi: Badai lawoe ADVENTURE
                   083898492728, (Verry)



Tuesday, December 20, 2011

ALAT-ALAT PENYIMPANAN SURAT untuk SISTEM KARTU KENDALI

Peralatan penyimpanan digolongkan menjadi peralatan manual, mekanis, dan otomatis. Peralatan penyimpanan manual menyediakan ruang penyimpanan untuk dokumen, sehinngga pemakai harus menuju ke berkas untuk menyimpan atau mengambil dokumen. Perlengkapan penyimpanan meliputi:


1. Spindle File
Ditemukan abad 16, berupa jarum besar atau paku menganga ke atas yang ditancapkan pada papan atau kertas tebal. Sampai sekarang alat ini masih digunakan untuk menyimpan catatan, bon, rekening, dan dokumen kecil lainnya.

2. Vertical Filing Cabinet
Mulai digunakan sejak tahun 1800-an. Dokumen kertas pada mulanya disimpan mendatar, apabila bertambah banyak maka disusun menurut abjad dan ditegakkan. Vertical Filing atau peralatan tegak adalah jenis yang umum dipergunakan dalam kegiatan pengurusan arsip. Jenis ini sering disebut dengan filing cabinet (almari arsip). Yang standar terdiri dari 2-6 laci. Ada dua macam almari arsip, yaitu:
-          Almari arsip untuk diisi dengan folder biasa
-          Almari arsip untuk folder gantung yang mempunyai tempat untuk gantungan folder

 3. Open Self File
Berupa jajaran dokumen yang dilakukan pada lemari terbuka. Dokumen dapat diakses dari samping. Umumnya memiliki lebar antara 78-110 cm, dengan jumlah deretan bertingkat antara 2-8 tingkat. Dokumen disimpan dalam folder agar pencarian dokumen lebih cepat.

4. Lateral Files
Penyimpanan dokumen dari samping secara horisontal. File ini lebih menghemat daripada filing cabinet.

 5. Unit Box Lateral File
Menggunakan rancangan kotak khusus yang dapat digantung pada rel yang ditempelkan pada tiang sepanjang rel. Setiap kotak mampu memuat dokumen setebal 10 cm yang tergantung agak miring untuk mempercepat rujukan, sehingga tidak perlu mengambil folder sebelum menyimpan dan pencarian dokumen. Umumnya rak ini lebih tinggi dari rak terbuka.

 6. Card File
Menyimpan stok kartu yang dijajarkan dalam berbagai ukuran sehingga pemakai dapat menggunakannya sebagai referensi informasi yang dibutuhkan (hampir mirip dengan yang digunakan pada perpustakaan), seperti catatan kegiatan (seperti bon dan tagihan).

 7. Penyekat
Merupakan lembaran yang dapat dibuat dari karton atau tripleks yang digunakan sebagai pembatas dari arsip-arsip yang disimpan. Pada penyekat ini ditempelkan label berisikan kata tangkap sebagai penujuk sesuai dengan sistem penyimpanan yang dipergunakan.

 8. Penunjuk (guide)
Mempunyai fungsi seperti sebagai tanda untuk membimbing dan melihat cepat kepada tempat-tempat yang diinginkan di dalam file. Penunjuk terdiri dari tempat label yang menjorok ke atas dibuat dalam berbagai bentuk, yang disebut tonjolan.

9. Kata Tangkap
Judul yang terdapat pada tonjolan disebut kata tangkap. Untuk membuat kata tangkap baik berupa huruf, abjad, nama maupun subjek haruslah dibuat seiungkat mungkin sehingga dapat dibaca dengan mudah dan cepat.

10. Label
Yaitu sejenis stiker yang dipakai untuk membuat kode kemudian stiker itu ditempelkan pada bagian-bagian tertentu.

Kesimpulan: 10 alat...



Terima Kasih
Baca juga yang lain...

5 Permasalahan Budaya Bangsa dan Analisanya... Sikap Kita.

Berikut 5 masalah dan analisinya :

    1. Masyarakat etnik Indonesia tidak mampu memanfaatkan dialog dengan kebudayaan barat. Kebanggaan akan diri sendiri yang kemudian mengungkung dan mengurung, sehingga memunculkan sikap tertutup, tidak egaliter dan tidak demokratis. Gejala ini berlaku secara umum, kecuali beberapa suku seperti masyarakat Minangkabau.
    Analisa terhadap masalah tersebut adalah perbedaan pendapat saya di bagian “Gejala ini berlaku secara umum, kecuali beberapa suku seperti masyarakat Minangkabau” itu tidak benar, mengapa? Karena kenyataannya sekarang banyak suku di Indonesia tidak sesuai dengan masalah diatas yang mengartikan tidak lain bahwa “Masyarakat etnik Indonesia tidak mampu memanfaatkan dialog dengan kebudayaan barat. Kebanggaan akan diri sendiri yang kemudian mengungkung dan mengurung, sehingga memunculkan sikap tertutup, tidak egaliter dan tidak demokratis” itu tidak terbukti di suku yang dominannya sering dikunjungi wisatawan (pelancong) baik mancanegara ataupun domestik. Contoh di Bali, suku-suku disana sudah terbiasa sejak zaman dahulu saling bertenggang rasa dan toleransi terhadap budaya yang masuk ke daerahnya, bahkan suku-suku disana bisa membuat budaya bangsa kita memancanegara dengan seni-seninya, dan seni yang paling terkenal adalah seni tarinya.
   Kebanggaan akan diri sendiri yang kemudian mengungkung dan mengurung, sehingga memunculkan sikap tertutup, tidak egaliter dan tidak demokratis itu terjadi ketika sektor pariwisata kita belum optimal menjadi salah satu pendapatan negara dan pekerjaan masyarakat setempat. Sekarang pemerintah bersinergi dengan LSM setempat untuk mengembangkan kebudayaannya dengan cara mewariskan budaya yang dimiliki suku tersebut dan mendemokannya ke khalayak luas melalu (pemerintah) Kemenbupar agar senantiasa budayanya tersebut diakui dan menjadi cirri khasnya daerah dan suku tersebut. Kembali ke pertanyaannya, sikap yang harus diterapkan bangsa ini adalah memberi masukan, pendidikan dan terutama sosialisasi secara personal dari pemerintah/LSM (yang berkaitan dengan budaya) langsung kebawah (topik tujuannya yaitu suku-suku yang masih dimasalahkan dalam masalah ini). Lalu untuk mendukung tersebut digunakan cara keluar yang dilakukan pemerintah yaitu dengan pembelajaran ke masyarakat luas tentang budaya barat dan globalisasi sekarang untuk mewawaskan tentang bagaimana agar budaya kita tetap eksistensi dan bersaing dengan budaya luar.

   2. Kebanggaan berlebihan terhadap budaya sendiri sehingga menimbulkan kecenderungan, meremehkan dan menganggap etnik lain sebagai pesaing (kecemburuan budaya). Misalnya: sikap tidak mau kalah orang Minang terhadap orang Jawa. Hal ini akan menjadi penghalang bagi dialog antar budaya.
Analisi terhadap masalah ini adalah sebagai berikut :
   Masalah budaya yang digambarkan di masalah tersebut adalah berkaitan dengan budaya lokal yang berbentrok dengan budaya lokal lainnya dan masih dalam satu payung bangsa Indonesia. Contoh lain selain orang Minang terhadap orang Jawa adalah Orang Madura dengan Orang Kalimantan dan Agama Islam terhadap Agama Kristen di daerah Poso. Beberapa kasus tersebut memang didasari rasa cinta yang berlebih terhadap budaya sendiri, memang bagus untuk menjaga eksistensi budaya sendiri tetapi dapat memunculkan rasa ketidakharmoniasan dalam berSARA (Suku, Agama, Ras) dan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan rasa Pancasila.
     Konflik yang terjadi dalam masalah tersebut sering kali timbul dari hal yang biasa dan menjadi besar ketika sudah lama ada, maka dari itu tahap pertama yang harus dilakukan untuk mencegah dan bahkan menghilangkan masalah tersebut adalah dengan cara mensosialisasikan dengan benar dan mendalam terhadap siapapun yang ingin pergi ke suatu daerah yang keadaan daerah itu memang berbeda dengan daerah asalnya. Lalu tahap berikutnya dengan memberi pelajaran yang jelas (menyangkut ketatakramaan, dan kewarganegaraan) ke setiap suku-suku yang ada agar suku-suku tersebut dapat menumbuhkan rasa toleransi beragama, berkehidupan dan berkepribadain terhadap budaya yang masuk dari luar. Suatu ketika jika konflik itu sudah terjadi, bagaimana bersikapnya? Dengan cara tindakan bermusyawarah, mengapa? Karena musyawarah dapat membuat keadaan menjadi tenang dan akhirnya dapat memecahkan masalah yang timbul diantara kedua suku tersebut, lalu siapakah yang menengahkan itu? Pemerintah dan LSM(yang berkaitan dengan budaya) menjadi tonggak utama untuk menengahkan itu, mereka dijadikan itu karena memang tugas mereka menjaga kestabilan di masyarakat dalam konteks budaya. Dialog antarbudaya terjadi jika suatu suku yang berkomunikasi dengan suku lainnya tidak mengalami permasalahan dan berkehidupan harmonis, maka sikap diatas dapat dilakukan agar dialog antarbudaya tetap terjaga dan jika terjadi masalah dapat diselesaikan dengan baik.

   3. Sikap imperatif budaya negara kebangsaan telah mengakibatkan pergeseran budaya yang jauh. Contoh dari hal ini, bahasa nasional yang menjadi sangat penting mulai mendesak mundur bahasa-bahasa daerah.
Analisisnya mengenai penggunaan bahasa, lebih jelasnya sebagai berikut :
Pandangan terhadap masalah ini berbeda-beda, tetapi saya lebih memilih menyeimbangkan bahasa nasional dan bahasa daerah yang menjadi pionir pemersatu bangsa. Namun dilihat dari bahasa daerah yang di desak mundur oleh bahasa nasional memang sudah nyata itu ada karena rasa nasionalisme bangsa Indonesia dan juga pergerakan teknologi pengetahuan yang semakin kompleks di masyarakat.
   Bahasa-bahasa daerah memang sudah ada sejak suku-suku di Indonesia itu ada dan menjadikannya komunikasi vital yang dipergunakannya antara anggota suku tersebut, sedangkan bahasa nasional kita ada, ketika suku-suku di Indonesia bersatu dan memproklamasikan dirinya menjadi bangsa Indonesia yang utuh, tidak kemungkinan lambat laun yang menjadi bahasa utama kita yaitu bahasa Indonesia mengambilalih bahasa-bahasa yang ada di dalam negeri ini, tetapi jangan dilihat dari segi buruknya, bahasa nasional yang mendesak mundur bahasa daerah, bahasa nasional kita ini merupakan bahasa pemersatu bangsa “satu nusa satu bangsa satu bahasa kita”. Bahasa nasional ini memiliki arti yang begitu dahsyat dalam mempersatukan bangsa dari berbagai suku-suku yang ada di Indonesia, buktinya bisa kita lihat di kehidupan sehari-hari.
   Masalahnya adalah bahasa daerah yang di desak mundur oleh bahasa nasional? Bagaimana cara mengatasinya dan menyeimbangkan kedua bahsa tersebut agar menjadi kesatuan yang semakin erat dan menjadi ciri khas bangsa kita? Jawabannya adalah dengan memberi kebebasan setiap individu untuk berbahasa daerahnya ketika nonformal antar sesama daerah tersebut, mengapa nonformal? Karena jika formal yang diwajibkan oleh pemerintah adalah bahasa nasional dan tempat yang paling tepat adalah nonformal (keseharian masyarakat). Lalu berikutnya dengan regulasi pemerintah lewat Kemendiknas yang sekarang sudah ada kurikulumnya untuk mempelajari bahasa daerahnya masing-masing di setiap wilayahnya. Kurikulum ini menjadikan anak-anak sekolah dapat mempelajari bahasa daerahnya dengan seksama dan sesuai dengan kepribadian daerahnya tersebut. Berikutnya sikap yang harus dilakukan oleh bangsa ini adalah memberi arti kepada masyarakat dengan kenyataan bahwa bahasa daerah kita merupakan ciri khas daerahnya masing-masing dan dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari disamping mempergunakan bahasa Indonesia lalu sebagai bangsa yang besar harus menjunjung rasa toleransi dalam berbahasa agar bahasa nasional dan
daerah itu seimbang.

   4. Sangat menonjolnya pengaruh budaya Jawa dalam kehidupan masyarakat kita sebagai negara bangsa yang sangat rentan akan “kecemburuan budaya” terutama bagi etnik yang juga peranannya sangat dalam membangun negeri ini.
Analisi saya mengenai masalah budaya Jawa yang sangat menonjol dalam membangun negeri ini di bandingkan dengan budaya lain yang juga berperan adalah
    Budaya Jawa memang sudah kuat di negeri ini dalam membangun bangsa karena ibu kota bangsa ini berada di Jakarta (masih dalam pulau Jawa) dengan kata lain budaya Jawa sangat kental didalamnya. Coba ibu kota negeri ini berada di luar pulau Jawa maka tidak dipungkiri budaya-budaya yang menjadi tanah ibu kota tersebut sangat dominin dalam membangun bangsa ini. Jangan kita andai-andaikan tetapi bagaimana caranya agar semua itu seimbang, tidak ada kata budaya jawa yang dominan atau budaya lainnya. Membahas tentang kenyataan sekarang sudah banyak bibit unggul daerah yang sudah mulai untuk bertindak membangun bangsa, mereka berbondong-bondong ke pusat dan bekerja untuk daerahnya, yang dimaksud adalah sudah ada perwakilan setiap daerah di MPR untuk berfikir membangun bangsa secara bersama-sama, kenyataan ini belum terjadi saat masa presiden Soeharto, namun setelah reformasi secara besar-besaran dan hak-hak daerah diberi kewenangan luas (otonomi daerah) membuat setiap daerah berkembang sesuai kemampuannya dalam membangun bangsa ini.
    Sikap kita sebagai bangsa untuk menyikapi masalah diatas adalah dengan memberi peluang bagi budaya lain (orang luar di P. jawa) untuk membangun bangsa ini, maksudnya adalah budaya luar tersebut sangat diperbolehkan membangun bangsa ini dengan cara budaya luar tersebut di pakai dalam berbagai acara bangsa, contohnya : budaya bali yang sudah mendunia dapat dijadikan ciri khas di mata dunia untuk dijadikan warisan budaya bangsa Indonesia, wakatobi perairan yang di kenal sebagai taman diving terkenal dunia dapat dijadikan tempat untuk berwisata selam dan penyelamatan terumbu karang dunia juga sebagai ekosistem yang ditempatkan untuk warisan masa depan. Semua itu tidak terlepas dari tangan budaya daerah setempat tersebut, karena jika tidak ada norma budaya yang mengatur hal itu maka kemungkinan akan terjadi kerusakan dan kepunahan budaya yang mengakibatkan bangsa ini menjadi miskin budaya dan akibatnya terhadap bangsa adalah stagnya bahkan mundurnya dalam membangun bangsa ini. Sikap yang paling tepat diambil pemerintah adalah kebijakannya yang dibuat harus sesuai denagn demokrasi secara nasional, artinya setiap kebijakan membangun bangsa harus sangat memperhatikan budaya-budaya daerahnya masing-masing serta dari itu dapat dijadikan pemersatu antar budaya jawa yang masih dominan dengan budaya daerah lainnya untuk saling bersinergi dalam membangun bangsa ini.

   5. Sikap persimpangan jalan dari generasi muda diantara pengagungan akan tradisi lama dengan fenomena yang sedang mereka hadapi.
Analisis masalah ini lebih mengarah ke generasi muda yang sudah mulai meninggalkan tradisi lama dengan mengalih ke tradisi modern.
    Generasi muda memang mempunyai cara sendiri dalam menilai budaya tetapi yang dipermasalahkan dalam masalah tersebut adalah sikap yang meninggalkan tradisi lama dan menuju ke tradisi baru. Tradisi baru atau modern mencakup seluruh bagian kehidupan, bagian tersebut dimulai dari bahasa, tingkah laku, adat istiadat, pengetahuan dan lain sebagainya yang telah mengubah keadaan semakin maju dan modern. Keadaan ini memang sangat dibutuhkan bangsa untuk bersaing terhadap arus globalisasi yang semakin meningkat, namun di balik itu semua tradisi lama kita semakin memudar dalam kesehariannya misal permainan tradisi digantikan dengan permainan teknologi, contohnya permainan sepak bola di lapangan terbuka berubah menjadi permainan fotsal di lapangan penyewaan, permainan petak umpat digantikan dengan permainan PS. Itu semua terjadi karena globalisasi yang semakin menguat dan geografis yang semakin sempit. Dengan kata lain tempat untuk melakukan tradisi lama sudah beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan modern (mal).
Realita diatas tidak terjadi pada masyarakat pedesaan yang walaupun kenyataannya juga sudah hampir memudar tetapi rasa peduli terhadap tradisi lama masih dijunjung tinggi, seperti adat pertunjukkan wayang yang masih terpelihara di desa-desa, acara bersih-bersih desa dilakukan serentak secara sukarela dan bersama-sama untuk menjadikan desanya bersih.
  
- Berikut pendapat saya dalam LOMBA MENULIS NASIONAL UNTUK REMAJA 2010 dengan tema: Realita Budaya di Mata Anak dan judul : Pengaruh Globalisasi Terhadap Budaya Anak Bangsa. Pendapat ini mendukung dari analisa masalah kelima tersebut.
Kita tahu cita-cita harus ditempuh setinggi langit akan tetapi jangan sampai angan-angan kita itu terputus oleh perubahan budaya yang semakin modern ini. Di era globalisasi ini sudah banyak budaya leluhur kita yang hampir hilang dimakan zaman sebagai contoh kecil mengenai permainan yang identik dengan anak-anak, seperti kita tahu dahulu saat kita masih kanak-kanak permainan tradisional masih sering kita lakukan bersama tanpa mengenal lelah dan bermain bersama tanpa mengenal perbedaan Suku Ras dan Agama maupun Bangsa. Kita bermain berbaur satu sama lain dan dengan rasa yang amat senang dan bahagia, tetapi di zaman sekarang kita bisa lihat anak-anak di perkotaan permainan tradisional sudah hampir tiada dan digantikan dengan sebuah kecanggihan alat yang kian mengglobal dan dipenuhi dengan fasilitas yang semakin modern serta amat canggih seperti PSP, Play Station, Game Online dan permainan canggih lainnya, banyak orang tua anak yang berpikir jika mereka memainkan permainan tradisional sangat lelah untuk anaknya dan gengsi akan statusnya tapi banyak anak yang masih menginginkan permainan tradisional untuk memainkannya tetapi tidak boleh diijinkan oleh orang tuanya, mungkin pertama takut berbahaya ataupun gengsi akan permainan itu sendiri atau bahkan takut anaknya bergaul dengan anak yang tidak mampu dan sering kali anak yang tidak mampu itu diasumsikan anak jalanan atau anak yang liar, orang tuanya takut anaknya menjadi ikut- ikutan akan segala hal buruk yang mungkin anak itu lakukan. Tetapi memang tugas orang tua mengawasi anaknya baik dari seluruh perilakunya di masyarakat dan dilingkungan keluarganya tetapi anak itu harus secara tidak langsung diberikan kebebasan akan keinginannya untuk bermain, jangan selalu dikekang keinginnanya. Jika terus menerus dikekang malahan nanti akan terjadi pergolakan emosinal si anak tersebut, kita tahu bahwa pada umur kanak-kanak bermain adalah hal yang tepat dan wajib untuk perkembangan si anaknya baik emosional dan pikiran kreatifnya juga sangat bermanfaat untuk saling mengenal antar sesamanya dan menjadikan tempat untuk mengembangkan kecerdasan perilakunya.
    Akan tetapi coba kita bayangkan dan perbandingkan dengan di pedesaan, anak-anak desa bermain secara tradisioanal dan masih menjunjung tinggi nilai kegotongroyongan dan kebersamaan. Mereka tidak bermain dengan permainan yang berbau teknologi, mereka hanya bermain dengan permainan yang telah bertradisi turun temurun antar generasi di desanya dan kebanyakan permainan tersebut banyak yang menggunakan dari bahan yang telah ada disekitarnya seperti permainan bola gebok bolanya bisa dari tumpukan sampah daun yang dibuat seperti bola dan diikat dengan kulit pohon lalu alur permainannya juga sederhana. Tetapi bukan dari permainannya yang kelihatan simpel dan sederhana, banyak perilaku yang bisa kita ambil dari permainan tersebut dari nilai- nilai kegotongroyongan dan kebersamaan yang kuat serta adat istiadat dan tradisi yang selalu dijunjung erat. Mereka tidak bosan-bosannya bermain permainan tersebut bahkan selalu dikembangkan dan permainan baru pun muncul.
- Jadi sikap kita sebagai bangsa Indonesia haruslah bijak dengan keadaan sekarang namun haruslah memfilter keadaan modern ini dengan sesuai budaya yang kita miliki. Segala jenis pertunjukkan dan pariwisata budaya dapat mendorong kembali tradisi lama yang menghilang.
Terima Kasih

Wednesday, December 14, 2011

Mengapa sarana penataan berkas harus memenuhi kaidah keamanan dan keselamatan arsip?

JAWAB
Keamanan dan kesalamatan arsip sangat diperlukan karena tidak hanya sebagai salah satu pokok dalam upaya pencegahan/penanggulangan suatu kejadian terhadap arsip namun juga sebagai fungsi dalam membuat arsip tersebut dapat selalu digunakan dengan kriteria aman dan selamat serta berpengaruh kepada kelancaran organisasi yang akhirnya dapat menyajikan pelayanan kepada pimpinan secara cepat dan tepat. Maksud dari sarana tersebut adalah harus sudah memenuhi standar operasional prosedur dalam konteks penataan berkas yang meliputi sistem dan alat yang digunakannya.
Bagaimanakah kaidah yang aman dan selamat dalam sarana penataan berkas? Selain sudah SOP, sarana penataan berkas ini juga sudah digunakan secara berkala dan sesuai dengan sistem pemberkasan yang digunakan oleh organisasi. Sarana penataan berkas juga sudah mengalami pengevaluasian sebagai tahap pernah terpakai dan jika terjadi kesalahan dapat segera diatasi oleh karena tahapan ini.

Berikut sarana penataan berkas yang meliputi:
1. pola klasifikasi
Pola ini sangat dibutuhkan oleh setiap organisasi karena selain dapat mengatur alur masuk dan keluar arsip namun juga dapat digunakan untuk menjaga kerahasian arsip tersebut. Pola klasifikasi ini juga berfungsi sebagai menunjang administrasi yang terjadi dalam organisasi.
2. indeks
Sarana ini masih dalam keamanan dan kesalamatan arsip dalam isinya atau kaidah keamannya dapat dilihat dari isinya.
3. lembar tunjuk silang
Lembar yang dipergunakan untuk memberikan petunjuk adanya arsip yang memiliki lebih dari satu masalah arsip yang sebagai petunjuk adanya hubungan dengan arsip yang lain. Dimungkinkan dengan lembar ini arsip yang berkaitan lebih rahasia atau penting dapat dicegah untuk dibuka.
4. folder berkas
Folder berkas adalah sarana untuk menyimpan arsip sehingga arsip dapat dihimpun dalam satu wadah, folder mempunyai tab untuk mencantumkan kode masalah dan indeks yang merupakan judul berkas. Folder berkas ini menjadi satu lapisan untuk melapisi fisik arsip dan membuat keamanan sebelum dibuka jika pengguna membaca judul folder berkas.
5. sekat
Sekat adalah alat bantu penataan berkas yang terdiri pokok masalah, sub masaiah dan sub -sub masalah sebagai petunjuk letak penyimpanan berkas sehingga memudahkan penemuan berkas.
6. filling cabinet
Filling cabinet adalah tempat untuk menyimpan arsip yang dibuat dari bahan metal yang memiliki 4 laci atau lebih. Filling cabinet ini sanagat berguna dalam keadaan yang berbahaya, seperti kebakaran, di dalam filling cabinet arsip masih dapat terjaga oleh karena alat ini terbuat dari metal yang tahan api. Untuk masalah keamanan di filling cabinet biasanya sudah tersedia kunci untuk pengamanan.

Kesimpulan: Sarana penataan berkas diwajibkan untuk dapat memenuhi kaidah dan kesalamatan arsip dapat dilihat dari bentuk fisik dan dalam arsip. Untuk bentuk dalamnya dapat digunakan pola klasifikasi, indeks dan lembar tunjuk silang yang memang khusus untuk arsip tersebut. Untuk fisik, perlindungan dari luar dapat digunakan alat yang memang sudah teruji fungsinya dan mudah digunakan, seperti filling cabinet.

Cara menyusun berkas hasil korespondensi, secara umum saja,..

Cara penyusunan berkas atau metode dalam pemberkasan

      Setiap organisasi mempunyai kegiatan yang selalu menghasilkan dan menerima berkas dan berkas tersebut tidak hanya didiamkan saja tetapi sering sekali dipergunakan untuk mendukung kegiatan berikutnya dan pertanggung jawaban kegiatan yang lampau. Oleh larena itu organisasi membutuhkan penyusunan yang berguna untuk menindaklanjuti berkas yang ada. Penyusunan ini juga membutuhkan penyimpanan sebagai tahap selanjutnya, kedua tahap tersebut membutuhkan sistem. Sistem ini berguna untuk mempermudah melakukan pekerjaan penyusunan berkas. Cara penyusunan berkas dapat menggunakan sistem angka, huruf, kombinasi angka dan huruf untuk identifikasi berkas.
        Terdapat beberapa pandangan tentang macam metode pemberkasan, Seperti Kennedy (1998:169-171) menyatakan secara garis besar pemberkasan menggunakan sistem numerik dan sistem abjad. Sulistyo (1999:93) menyatakan terdapat sistem utama pemberkasan rekod, yaitu abjad numerik klasifikasi, kronologis dan warna. Menurut Gunarto (1991:19), Ann Bennick (1989) dalam ARMA, dan Martono (1990:22) dari metode pemberkasan yang ada secara garis besar pemberkasan digolongkan ke dalam tiga jenis yaitu sistem numerik/angka, sistem abjad dan sistem subyek.
     Sistem diatas adalah sistem yang digunakan untuk berkas konvensional/kertas namun masa sekarang sudah banyak organisasi yang meggunakan sistem pemberkasan secara elektronik. Agus Sugiarto (2005:122) mengatakan ’dengan menggunakan media elektronik diharapkan akan membantu pihak pengelola arsip untuk dapat mengelola dokumen dengan baik dalam hal penyimpanan, pengolahan, pendistribusian, dan perawatan dokumen. Lebih lanjut Agus Sugiarto (2005:123) mengatakan penggunaan media elektronik dalam pengelolaan arsip inilah yang sering disebut dengan sistem pengarsipan elektronik yang berbasiskan dengan penggunaan komputer.
    Lalu sistem yang banyak digunakan untuk menyusun berkas hasil korespondensi adalah sistem abjad, subyek, geografis, nomor, dan kronologis. Susunan abjad masih dapat diperluas lagi menurut abjad nama, abjad geografi dan abjad subyek. Beberapa sistem dapat dikombinasikan menjadi sistem campuran, misalnya abjad dengan numerik dikenal sebagai sistem alfanumerik atau abjad geografi ditambah dengan abjad nama orang ataupun abjad dikombinasikan dengan warna. (Sulistyo Basuki, 2003:75).

Berikut penjelasan mengenai sistem pemberkasan:
a. sistem Numerik
Sistem ini menggunakan nomor, yang biasanya digunakan dari urutan nomot terkecil hingga terbesar
b. sistem Abjad
Sistem ini merupakan sistem atas dasar abjad, yaitu dengan menggunakan urutan abjad nama orang, organisasi, dan nama subyek.
c. sistem Subyek
Sistem ini sering digunakan dalam berkas hasil korespondensi (surat dan sejenisnya),
d. sistem Geografis
Sistem ini menggunakan sistem dengan nama geografis/wilayah yang berkaitan dengan berkas tersebut.
e. sistem Kronologis.
Sistem yang menggunakan urutan waktu secara terperinci dan tanggal digunakan utnuk mengurutkan berkas.
Adapun langkah-langkah dalam pemberkasan:
1. pemeriksaan
Tahap ini digunakan untuk mengetahui kondisi arsip, kelengkapan, dan keterkaitan dengan arsip lainnya.
2. penyortiran
Penyortiran dilakukan untuk memilah antara kelompok arsip yang satu dengan kelompok arsip yang lain.
3. penentuan indeks
Penentuan indeks dilakukan untuk menentukan nama jenis arsip atau kata tangkap (caption) atau kata kunci (keyword) sesuai dengan isi arsip. Indeks dapat berupa nama orang, organisasi, nama wilayah, nama benda, nomor, dan subjek atau masalah
4. penentuan kode
Penentuan kode dilakukan berdasarkan kelompok subjek, sub subjek, dan sub-sub subjek berupa gabungan huruf dan angka Penentuan kode disini maksudnya adalah penentuan kode klasifikasi.
5. pembuatan label
Pembuatan label sebagai tanda penunjuk/identitas. Pembuatan label dilaksanakan pada sekat penunjuk (guide), folder/map, dan peralatan penyimpanan lainnya.
6. pembuatan tunjuk silang
Pembuatan tunjuk silang dilaksanakan untuk menghubungkan berkas yang satu dengan berkas lain yang memiliki keterkaitan informasi.
7. penempatan arsip
Tahapan ini adalah tahap terakhir untuk menetukan tempat simpan arsip. Penempatan dapat dilakukan sesuai subjek arsip dan lokasinya.

bagi yang mempunyai pengertian beda bisa kok di komentari.., Thanks.
Baca juga Artikel yang lainnya.
Terima Kasih

Prinsip menyimpan arsip tidak per item, WHY?

Menyimpan arsip atau sering lebih di kenal dengan memberkaskan arsip. Pengertian dari pemberkasan adalah suatu tugas yang penting dalam organisasi yang bertujuan untuk mengatur dan menyusun arsip dalam sistem yang sudah diterapkan dengan metode-metode yang mudah digunakan, serta menyimpan dan merawat arsip secara tepat dalam hal anggaran dan keamanannya. Sistem ini digunakan secara sistematis sehingga arsip tersebut dapat ditemukan dengan mudah dan cepat.
Filing system menurut Kennedy (1998) adalah sistem penyimpanan dan penemuan kembali informasi yang terdiri dari aspek sistem seperti : lokasi fisik, metode klasifikasi dan pengideksan, pengaturan dan penataan berkas, prosedur pemberkasan, peralatan dan perlengkapan, pelacakan berkas, teknologi yang digunakan dalam implementasi sistem.
Sementara itu filing system, ICA mendefinisikan sebagai suatu rencana klasifikasi untuk pengaturan fisik rekod, penyimpanan dan penemuan kembali file, biasanya diidentifikasi dengan simbol yang menggunakan abjad, nomer atau kombinasi.
Prinsip penyimpanannya dalam pemberkasan dibagi dalam tiga teknik, yaitu; seri, rubrik, dan dosir. Masing-masing mempunyai pengertian sendiri-sendiri dan arsip tidak dimungkinkan bisa disimpan sendiri/per item.
Bagaimanakah yang terjadi jika disimpan per item? Arsip menjadi sulit susah dicari dan terjadi kekacauan administrasi kemudian memboroskan anggaran dan terutama tidak efektif dan efisien dalam lingkup pengelolaan kearsipan.
Jadi arsip harus di simpan dalam ke tiga teknik tersebut. Prinsip tersebut membuat pengelola menjadi mudah dan sederhana dalam memberkaskan arsip. Bagaimana keuntungannya jika disimpan dalam ketiga teknik tersebut? Arsip dapat dengan mudah untuk diketemukan karena sudah memiliki sistem pemberkasan didalamnya, lalu untuk mendukung tersebut harus sepakat dalam pengelolaan arsip didalam satu organisasi, artinya tidak terjadi sistem penyimpanan yang ganda.
Prinsip penyimpanan tersebut membuat pekerjaan pengolah kearsipan menjadi mudah dan intinya di pelayanan temu balik arsip menjadi cepat dan mudah.

Tuesday, December 13, 2011

Fun Rafting di Sungai Ello - Magelang


Kami Siap melayani Anda untuk bersenang - senang bersama teman, keluarga, atau teman kantor Anda untuk mengisi waktu libur Anda di dunia arung jeram.

Rasakan sensasi jeram Sungai Ello - Magelang untuk memacu adrenalin Anda dan menjadikan pengalaman yang tak terlupakan.

Hubungi: Badai Lawoe ADVENTURE
Hubungi: 083898492728, Verry