Rabu, 23 April 2014

Pertanyaan dan Jawaban mengenai "Informasi Sebagai Suatu Produk"

Pertanyaan:
1.   Jelaskan apa yang Anda ketahui dari informasi sebagai suatu produk? Bagaimana perbedaan antara informasi yang dihasilkan oleh lembaga informasi (perpustakaan, museum dan arsip) dengan lembaga pemerintah lainnya yang mengeluarkan informasi (kementerian komunikasi dan informatika, sekretariat negara dan pusat pengelolaan informasi dan dokumentasi di setiap lembaga pusat)?
Jawaban:
1.   Informasi sebagai suatu produk adalah hasil dari sebuah manajemen yang dilakukan oleh manajer (pengelola manajemen) melalui sebuah proses manajemen yang tujuan akhir berupa pelayanan kepada pengguna, pelayanan kepada pengguna bisa dijabarkan sebagai informasi yang sedang dibutuhkan pengguna. Namun informasi tersebut dapat melekat ke sebuah media yang digunakan, seperti informasi secara lisan dan tulisan. Informasi sebagai suatu produk melekat sekali di media informasi, tanpa media, informasi dapat dipertanyakan keabsahan dan keautentikan isi informasi tersebut. Informasi berupa tulisan dan lisan sering kali jauh dari pertanggungjawaban atas informasi tersebut, banyak informasi bohong belaka (hoaxs) tanpa bukti yang konkret. Oleh karena itu informasi sebagai suatu produk harus di seleksi terlebih dahulu mengenai kauliats informasi tersebut (bibit, bobot dan bebet). Informasi bisa dikatakan sebagai suatu produk namun jika di lihat mengenai produk pasti bisa mengetahui siapa yang memproduksinya. Pemproduk/Produsen dapat dibedakan dari individu dan masyarakat serta pemerintah. Untuk itu produk informasi yang dapat dikatakan bagus atau dapat dipertanggungjawabkan biasanya melihat lembaga penciptanya. Informasi itu bisa melekat juga pada jasa atau barang, ini jka di lihat ke belakang, informasi melekat di media apa? Jika melekat di media tulisan amak informasi seringkali di pandang sebagai informasi di barang. Jika melekat di lisan maka informasi seringkali di pandang sebagai informasi di jasa.
Bagaimana tanggapan masyarakat atas informasi sebagai suatu produk. Menurut pendapat saya. masyarakat hingga saat ini masih seringkali sulit membedakan informasi sebagai suatu produk karena informasi itu sendiri konteksnya sangat luas sekali. Informasi di media televisi, koran, buku, selembaran, poster, foto, film dan media rekam lainnya sangat beragam sehingga perspektif masyarakat/pengguna terhadap informasi masih umum belum ke konteks sudut-sudut informasi yang mendetail. Akhirnya masyarakat masih sering dirugikan akan informasi yang akurat dan informasi yang sesuia dengan kepentingan masyarakat. oleh karena itu, solusi saya akan informasi sebagai suatu produk harus diperkecil ruang lingkup bahasan informasi. Informasi yang seperti apa. Informasi yang bagaimana dan sesuai dengan kepentingan masyarakat/pengguna. Jika pokok bahasan pada bagian ini adalah perpustakaan maka informasi di perpustakaan seperti informasi peminjaman dan pengembalian buku, informasi apa yang ada di buku (konsultasi buku) dan informasi yang berkaitan dengan perpustakaan. Ini menghasilkan sebuah informasi yang jelas dan rinci karena masyarakat/pengguna mengetahui apa itu informasi sebagai suatu produk perpustakaan tidak melebar ke informasi lainnya sehingga pengguna menjadi lebih paham dan bisa menemukan kepentingan yang di cari.

Informasi yang dihasilkan oleh lembaga informasi dalam hal ini lembaga informasi disebutkan > perpustakaan, meseum dan arsip. Informasi di setiap lembaga itu berbeda-beda. Informasi ini tergantung tugas pokok dan fungsi dari masing-masing lembaga informasi.
·           Lembaga informasi di perpustakaan, jika perpustakaan lebih banyak melakukan pengelolaan di buku dan budaya membaca masyarakat. namun, budaya membaca yang bagaimana? Budaya membaca yang digerakkan harus dengan sinergi antara perpustakaan dengan lembaga pemerintah seperti kemendikbud dan lembaga swasta seperti LSM yang bergerak di bidang budaya membaca (Indonesia Mengajar). Informasi di perpustakaan melekat sekali di pandangan masyarakat sebagai informasi yang ada di buku, jadi perpustakaan itu tempat untuk membaca buku, meminjam dan mengembalikan buku. Untuk saat ini, era teknologi kekinian, perpustakaan sudah menerapkan komputer dalam peningkatan produk perpustakaan sehingga dari yang manual bisa menjadi otomasi (inovasi).
·           Lembaga informasi di museum. Museum seringkali diartikan sebagai benda-benda yang dipamerkan untuk dipertontonkan kepada masyarakat karena mempunyai nilai seni, pembelajaran, nilai sejarah dan nilai kebudayaan. Informasi yang dihasilkan berupa informasi dalam benda yang diperjelas dengan deskripsi di setiap benda itu serta dengan pemandu wisata museum tersebut. Coba bisa kita lihat di setiap museum pasti menampilkan benda-benda bersejarah dan indetik dengan nama museum itu. Misal museum nasional menampilkan benda-benda dan informasi secara nasional dan kedaerahan sedangkan di museum bank indonesia menampilkan sejarah bank indonesia secara media tulisan dari benda dan patung-patung.
·           Lembaga informasi di kearsipan. Arsip yang dalam pengertiannya adalah rekaman kegiatan dari berbagai bentuk media. Kearsipan mempunyai maskud tersendiri dan berbeda antara perpustakaan dan museum. Maksud tersendiri itu adalah karena bahan yang dikelola oleh arsip berbagai media dan media itu melekat seperti, kertas, film, tape recorder, peta. Perbedaan lainnya adalah informasi yang terdapat di arsip banyak yang belum bisa di buka/dilihat oleh khalayak luas artinya arsip dalam keterbukaan informasi masih harus melihat isi informasi itu, apakah sudah bisa di akses untuk khalayak luas. Ini karena isi arsip sangat berkaitan dengan privacy dari penciptanya. Berbeda dengan perpustakaan dan museum yang notabene informasi yang ada di kedua lembaga itu memang di buka dan digunakan untuk kepentingan masyarakat.
o    Bagaimana dengan informasi pada lembaga pemerintah lainnya seperti kemenkominfo, sekretariat negara dan PPID (pusat pengelola informasi dan dokumentasi)? Informasi di lembaga tersebut juga dapat dibedakan dari tugas pokok dan fungsi. Untuk Kemenkominfo yang lebih ke arah pengelolaan komunikasi dan informasi dari bidang teknologi. sedangkan Sekretariat Negara lebih mengarah ke bidang pemberian dukungan data, informasi, dan analisis dalam rangka pengambilan kebijakan di bidang politik, hukum, keamanan, perekonomian, dan kesejahteraan rakyat. PPID di setiap lembaga sebagai pelaksanaan atas Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik. Dalam hal ini, lembaga pemerintah juga mengelola informasi sesuai dengan tupoksi lembaga tersebut sehingga informasi sebagai suatu produk dapat dipasarkan sesuai dengan manajemen pemasaran kepada pengguna dengan lebih detail dan tepat sasaran.
Ø Arsip mempunyai ruang lingkup sendiri, perpustakaan mempunyai cakupan tersendiri begitu juga dengan museum dan lembaga pemerintah lainnya yang menghasilkan informasi yang dapat digunakan oleh masyarakat sebagai kepentingan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu dari bahasan informasi sebagai suatu produk dapat dikatakan informasi ini masih sangat luas, jika didetailkan dan dijabarkan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi lembaga yang menaunginya maka informasi sebagai suatu produk dapat dipahami dan dimengerti oleh masyarakat/pengguna.

Rabu, 05 Maret 2014

Penerapan Diagram Lancaster di Stadion Sepak Bola

Implementasi Sistem Pengindeksan
di Indonesian Football Stadium
(Stadion Sepak Bola di Indonesia)
A.      Latar Belakang
            Sepak bola merupakan oleh raga yang sangat familiar bagi masyarakat umum. Berbagai golongan sangat menggemari olah raga tersebut, mulai dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua. Hal tersebut dapat terlihat ketika ada pertandingan-pertandingan sepak bola, mereka sangat antusias untuk melihat baik itu secara langsung maupun melalui televisi. Harga tiket masuk pun tak jadi masalah, walaupun terkadang sangat mahal seperti ketika laga-laga big match yang penting mereka dapat melihat pertandingan tersebut secara langsung.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan mayoritas penduduknya menyukai sepak bola, antusiasme terhadap sepak bola pun sangat tinggi terlihat disetiap laga baik laga TIMNAS maupun klub-klub tribun-tribun di setadion selalu dipenuhi oleh ratusan bahkan ribuan supporter. Mereka beramai-ramai untuk menyaksikan klub kesayangan mereka berlaga. Rasa fanatic yang cukup besar terhadap klub kesayangannya membuat mereka tak peduli seberapa jauh dan seberapa mahal harga yang harus dibayarkan untuk menyaksikan klubnya berlaga, dan tak jarang para calo-calopun memanfaatkan keadaan tersebut untuk meraih keuntungan yang besar.
Rasa cinta dan fanatik terhadap klub tersebut tumbuh dan berkembang didalam jiwa para suporter tersebut. Mereka yang memiliki satu faham dan satu pandangan membuat suatu kelompok-kelompok (komunitas) untuk mendukung klub kesayangannya. Mereka datang untuk menonton bolapun datang dengan bergerombol dengan memakai jersey yang relatif mencerminkan kominitasnya maupun klub kesayangannya.  Mereka menamai kelompok/komunitasnya dengan istilah hooligan.
Apa itu hooligan? dalam buku The Oxford English Dictionary dijelaskan, kata hooligan berasal dari nama keluarga fiksi Irlandia yang kerap membuat  kebisingan di sebuah gedung konser pada era 1890-an. Kata hooligan lalu kerap digunakan sejak pertengahan dasawarsa tahun 1890. Istilah tersebut digunakan untuk menyebut geng jalanan di London, Inggris. Masa itu hampir bersamaan dengan mulai dikenalnya Scuttlers, geng yang kerap membuat onar di kota Manchester, Inggris. Karena asal-usulnya itu, tak heran jika Inggris sangat kental dengan hooligan. Istilah hooligan tersebutpun merambah didalam dunia sepak bola khususnya di inggris. Banyak lahir dan tumbuh komunitas hooligan yang namanya sudah terkenal dan besar di inggris seperti   Millwall Bushwackers (julukan suporter fanatik klub Millwal), Aston Villa Hardcore (julukan suporter fanatik klub Aston Villa), Inter City Firm (julukan supporter fanatik klub West Ham United), The Red Army (julukan supporter fanatik klun Mancahster United), Chelsea Headhunters (julukan supporter fanatik klub Chelsea) dan lain sebagainya.
Hooligan tersebut sangat fanatik terhadap klub kesayangannya, walaupun terkadang rasa fanatik tersebut boleh kita katakan bagus karena hal tersebut perlu untuk member spirit terhadap klub kita yang sedang berlaga. Namun terkadang juga sangat disayangkan rasa fanatic tersebut sering berujung pada rasisme dan perilaku-perilaku anarkis. Hal tersebut sering terlihat ketika klub-klub tersebut sedang berlaga apa lagi mereka merupakan rival, maka tak jarang terjadi kerusuhan terutama di stadion ketika pertandingan sedang berlaga. Banyak klub-klub yang memiliki rivalitas contohnya di inggris Inggris Primer League seperti klub Manchaster United dan Liverpol, di spanyol dua klub besar dan boleh bahwa dikatakan dua klub tersebut yang merajai LALIGA yaitu Barcelona dan Real Madrid, di mana disetiap laga mereka sangat panas dengan jumlah penonton yang sangat banyak sehingga rawan terjadi aksi kerusuhan.
Ideologi baratpun khususnya pada negara-negara eropa mengenai kefanatikan terhadap suatu klub kesayangan pun pada masa kini telah merambah kepada masyarakat Indonesia salah satunya yaitu faham hooligan sebagaimana yang telah dikemukakan di atas tadi. Laga-laga panas dengan rivalitas baik klub maupun suporterpun juga sering mewarnai cerita sepak bola indonesia. Ajang yang dulunya hanya sebuah kompetisi pun kini terkadang berubah menjadi ajang gengsi dan politik mewarnai kancah sepak bola. Seperti yang kita tahu akhir-akhir ini rivalitas baik klub maupun suporter yang sedang hangat dibicarakan baru-baru ini, dimana disetiap laga mereka rawan keamanan dan sering terhadi kerusuhan. Hal tersebut dapat terjadi karena kurang siapnya pihak PANPEL (Panitia Pelaksana) pertandingan, terutama dari segi keamanan. Faktor jumlah penonton yang melebihi kapasitaslah yang sering menjadi faktor terjadinya kerusuhan. Apalagi jika terdapat laga dengan rivalitas klub maupun suporter yang panas, dengan basis supoter yang fanatik dan besar jumlahnya maka pihak PANPEL pun harus lebih ekstra mempersiapkan dengan sebaik mungkin.
Pihak PANPEL harus memperhatikan hal-hal yang sangat penting salah satunya faktor kapasitas penonton. Dengan adanya laga bigmatch para suporter fanatikpin secara otomatis akan rela datang dan hadir untuk melihat klub kesayangannya berlaga secara langsung walaupun jauh dan dengan biaya yang tidak sedikit. Sering karena tidak kebagian tiketpun meka nekat untuk masuk secara paksa, serta jumlah penontonpun melebihi kapasitas tribun. Hal tersebutlah yang menyebabkan rawan terjadi kerusuhan dan tidak sering jatuh korban jiwa, belum lagi karena adanya opnum-opnum yang tidak bertanggung jawab.

 




             Gambar Kerusuhan Sepak Bola
Kerusuhan pada sepakbola tersebut jika dibiarkan maka image akan sepak bolapun akan negatif, dan bukan malah semakin maju sepak bola kita namun akan semakin hancur dan terpuruk. Dengan adanya sistem pengindeksan pada Stadion khususya di Indonesia ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya kerusuhan dan jatuhnya korban jiwa. Pengindeksan tersebut akan dilakukan pada tribun-tribun dan tiket masuk stadion. Tribun dan tiket yang sudah terindeks nantinya akan memudahkan pihak keamanan untuk mengawasi penonton, sehingga laga dapat berjalan dengan baik.
B.       Sistem Pengindeksan di Stadion dengan menggunakan Diagram Lancaster
Pengindeksan merupakan suatu pengelompokkan informasi dengan memberikan kode maupun simbol-simbol untuk dapat ditemukan kembali dengan mudah. Sistem pengindeksan merupakan sistem yang mengatur urutan unit–unit atau bagian–bagian dari kata–kata kunci yang akan disusun, sebagai tanda pengenal untuk memudahkan penentuan tempat penyimpanan dan penemuan kembali suatu informasi (Information Retrieval).
Diagram lancaster merupakan suatu diagram yang menunjukkan bagaimana cara mengelola sebuah informasi yang dilakukan oleh penyedia informasi kepada pengguna informasi, informasi tersebut dikumpulkan dan dikelola hingga informasi tersebut siap disajikan dan digunakan oleh para pengguna informasi. Pengindeksan termasuk didalam salah satu proses dari diagram lancaster ini yaitu tepatnya pada proses description dimana pada proses tersebut terdiri dari 2 kegiatan yaitu abstracting dan indexcing.
Sistem pengindeksan ini akan diterapkan pada stadion dengan melalui proses siklus pengelolaan sebuah informasi yang terdapat pada diagram lancaster. Proses pengelolaan pada diagram lancaster tersebut meliputi population of document, selection and acquisition, conceptual analysis, description (abstracting and indexing), translation, document store/ data base of document, index of repretentation, population of user dan request.

C.      Implementasi Sistem Pengindeksan Pada Stadion
1.        Population of Document
Population of Document menjelaskan mengenai pengumpulan informasi yang ada di masyarakat oleh pengelola. Informasi ini masih berupa acak dan belum dilakukan proses seleksi. Survei dilakukan oleh pengelola dimaksud agar informasi yang diterima sesuai dengan tahap proses yang tepat dalam penjualan yang nantinya akan digunakan dalam tahapan berikutnya.
Pada studi kasus stadion ini pada tahap population of document populasi yang diambil meliputi: tempat parkir mobil dan sepeda motor, loket masuk, pintu masuk, pintu keluar, tribun dalam stadion dan lain sebagainya. Populasi tersebut  merupakan bagian-bagian yang terdapat pada stadion pada umumnya. Mengenai taman, tempat jualan seperti toko-toko itu merupakan bagian yang biasanya melengkapinya.
Dari beberapa populasi tadi selanjutnya akan dilakukan sebuah proses sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pihak pengelola informasi. Informasi yang dipilih tentunya hasus sesuai dan tentunya harus berorientas kepada pengguna. Hal tersebut dikarenakan karena tidak lain informasi ini dikelola agar nantinya dapat mempermudah didalam penemuan kembali (information retrieval).  

2.        Selection and Aquistion
Proses selection and aquistion ini merupakan tahap menyeleksi suatu informasi dari population of document tadi secara tepat bagi pihak pengelola informasi agar tepat sasaran bagi pengguna informasi. Pada proses ini semua informasi-informasi yang belum terkelola akan diseleksi maksudya adalah semua dokumen dipisahkan berdasarkan jenis dan kepentingannya dan jenis kebutuhan yang dibutuhkan oleh user, setelah di seleksi berdasarkan jenis dan kepentingannya dokumen akan diakuisisi.
Populasi dari stadion sebagaimana yang telah disebutkan di atas tadi adalah tempat parkir mobil dan sepeda motor, loket masuk, pintu masuk, pintu keluar, tribun dalam stadion dan lain sebagainya. Dari populasi tadi akan dilakukan proses seleksi sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari pengelola informasi ini. Sesuai dengan tujuannya tadi yaitu akan melakukan pengindeksan pada tribun stadion maka pada proses seleksi disini akan dipilih tribun stadion.
Stadion yang dipilih tadi di lakukan akuisisi kemu, dan nantinya akan diproses menuju ke tahap selanjutnya pada pengelolaan diagram Lancaster yaitu pada proses conceptual analysis.

3.        Conceptual Analysis
Merupakan pengaturan informasi sesuai dengan subyek yang sama dengan sistem penggolongan di bidangnya, di dalam proses conceptual analysis stadion tadi akan melalui tahapan sebagaimana yang disebut dengan description. Description ini merupakan suatu proses penggambaran agar suatu informasi mengenai tribun stadion tadi dapat teruraikan dengan jelas. Didalam proses description informasi yaitu mengenai tribun stadion tadi akan mengalami dua proses lagi yakni:
a.        Absracting
Proses abstracing merupakan tahapan dimana sumber informasi setelah diolah pada tahap sebelumnya akan mengalami proses peringkasan dan diambil kerangka karangnnya pada tahap abstracing ini, maksud dari peringkasan adalah bahan sumber informasi dijelaskan karakteristiknya namun secara ringkas.
Tribun stadion tadi selanjutnya dilakukan proses abstracting yaitu disini tribun stadion tersebut akan lebih dispesifikkan. Proses tersebut nantinya akan memudahkan pengelola untuk melakukan tahap indexing, karena setelah melakukan proses abstracting ini akan ditemukan kata kuncinya. Dari kata kunci tersebut nantinya akan dilakukan proses indexing. Berikut adalah proses abstracting pada tribun stadion tadi:
1)        Jenis tribun à
a.       VVIP
b.      VIP
c.       Ekonomi
d.        Urutan tribun :
VVIP                               VIPà VIP Barat        VIP Timur
Ekonomi 1                        Ekonomi 5                   Ekonomi 9
Ekonomi 2                        Ekonomi 6                   Ekonomi 10
Ekonomi 3                        Ekonomi 7                   Ekonomi 11
Ekonomi 4                        Ekonomi 8                   Ekonomi 12
  


http://www.gelorabungkarno.co.id/wp-content/uploads/2013/07/business-arsenal_map.map_.jpg
 


                  

Gambar Rangka Bangunan Stadion

e.         Nomor Bangku
Untuk penomoran pada bangku pertribun nantinya di urutkan mulai dari nomor yang terkecil, dengan pola dari atas ke bawah. Sistem ini dapat digambarkan mirip dengan penomoran bangku pada bioskop-bioskop. Para penonton nantinya akan langsung mendapat nomor bangku sesuai dengan yang tertera pada tiket masuknya.
b.        Indexing
Setelah melalui proses abstracing sumber informasi akan mengalami proses yang disebut dengan proses indexing yaitu dimana setiap sumber informasi tadi akan mendapatkan pengkodean/kode/call number yang akan sangat memudahkan para pengguna dalam hal temu kembali informasi nanti. Dalam hal ini berarti nantinya para penonton dapat termudahkan didalam penemuan kembali tempat duduk mereka. Berikut merupakan system pengindeksan pada stadion :
Jenis tribun :
VVIPà               Class 1 dengan kode VV
 VIPà                 Class 2 dengan kode VI
Ekonomi à          Class 3
Kode tambahan untuk kelas ekonomi:
Ekonomi 1            : A                   Ekonomi 5       : E                   Ekonomi 9       : I
Ekonomi 2            : B                   Ekonomi 6       : F                    Ekonomi 10     : J
Ekonomi 3            : C                   Ekonomi 7       :G                    Ekonomi 11     : K
Ekonomi 4            : D                   Ekonomi 8       : H                   Ekonomi 12     : L

Nomor Bangku:
            Untuk nomor bangku akan diurutkan mulai dari nomor kecil hingga nomor besar. Dengan ketentuan dimulai dari tempat duduk paling atas sampai menuju kearah bawah. B
Text Box: 2Text Box: 1                       








































Text Box: 22





 





                                      Gambar Penomoran Bangku Tribun Stadion

4.        Translation
Translation merupakan tahapan mengenai bagaimana penerjemahkan konsep yang telah di buat oleh pengelola ke document store atau database of document dan berhubungan juga ke document of representation dan pengelola. Translation ini menjabarkan bahwa analisis konsep sudah sesuai dengan pendeskripsian dan siap untuk dipublikasikan di bagian database of document atau document store.
Dalam proses conceptual analisys pada proses pengindeksan kita membutuhkan translation sebagai alat bantu, Selanjutnya melalui translation informasi-informasi tersebut akan diterjemahkan kedalam bahasa yang mudah dimengerti oleh para pengguna/user yang nantinya akan di gunakan sebagai akses yang bisa berupa subyek, subyek tersebut bisa berupa Vocabulary yaitu kumpulan kosa kata yang akan memudahkan pengguna/user, vocabulary ini bisa berupa search list, daftar tajuk subjek, theasaurus, dan kamus. Hasil penerjemahan informasi oleh vocabulary adalah Index of document representation biasanya berupa data base atau sejenis sebuah katalog.
Pada studi kasus mengenai stadion ini seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa setelah dilakukan proses indexing tadi maka diperoleh kode-kode dari deskripsi mengenai stadion tersebut. Nah, dari deskripsi yang telah terkode tersebut akan dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan pengguna didalam menemukan kembali nomor bangkunya.  
Berikut merupakan hasi dari pengkodeaan pada deskripsi-deskripsi yang telah di indeks tadi dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa yang telah dimengerti oleh pengguna:
Langkah di dalam penerjemahanà Jenis tribun/Kode Tribun/No. Bangku/Nomor Tiket/Tahun
                                                                                   
Class3/C/35/00387/2013

5.        Dicument Store/ Data Base of Document
            Document store/ data base of document disini yaitu informasi yang telah diterjemahkan tadi dapat dimasukkan delam data base. Hal tersebut dapat berguna sebagai pengecekan yang dilakukan oleh pihak pengelola. Dengan termudahkannya didalam pengecekan nantinya tingkat keamananpun akan lebih baik serta pertandinganpun dapat berjalan dengan lancar.
6.        Index of Repretentation
            Hasil penerjemahan informasi tidak hanya berupa data base tapi juga non data base seperti paper, hasil non data base ini akan disimpan pada  document store/ data base of document. dan pada proses translation terkadang kita tidak membutuhkan vocabulary , namun bisa langsung bisa berupa index of document reperesentation yang bisa juga berupa katalog, dan juga sumber informasi tadi langsung bisa ditempatkan di document store/ data base of document.
Berikut adalah hasil dari deskripsi pengkodean stadion tadi, dimana hasil tercetak tersebut berupa tiket masuk bagi penonton:
Flowchart: Alternate Process: Sriwijaya VS Persija
15.00- Selesai

Flowchart: Alternate Process: Class3/C/35/00387/2013

           
                       
           
Gambar Contoh Tiket Masuk

Tiket masuk tersebut hendaknya juga berupoa gelang yang dapat dtaruh pada pergelangan tangan. Hal tersebur dimaksudkan agar menghindari kehilangan ataupun dicopet dikarenakan sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa saat antri untuk masuk kedalam tribun stadion tersebut tentunya penonton berdesak-desakan. Pada proses antrian masuk tersebut tentunya rawan teradinya kecopetan ditengah-tengah kerumunan penonton lain, disini pihak keamanan harus juga mewajibkan opera penonton yang akan masuk harus memakai tiket pada pergelangan tangan terlebih dahulu baru kemudian di cek tiket tersebut.

7.        Population of user
Population of user disini user terdiri dari beberapa kalangan baik itu anak-anak, tua, muda, dewasa, dan orang tua. Tentunya disini diperlukan penanganan yang sebaik mungkin agar mereka dapat terpuaskan dan terlayani dengan baik. Pada studi kasus ini yang dimaksud dengan pengguna ini berarti adalah penonton. Penonton tersebut tentunya terdiri dari berbagai kalangan yang menginginkan mengenai informasi tiket.

8.        Request
Request yakni penonton yang  ingin mencari  infomasi tentang tiket sepak bola dengan meminta bantuan kepada petugas  di loket tiket atau pihak pengelola guna mempermudah mengakses informasi tiket tersebut lebih mudah, cepat dan tepat. Disini pihak pengelola melakukan proses identifikasi yang dapat dilakukan pada waktu proses pemesanan tiket pada loket. Penonton yang akan memesan tiket terlebih dahulu harus menunjukkan kartu identitas baik itu SIM, KTP, Kartu Pelajar dan lain sebagainya kemudian data yang terdapat didalam karti identitas tersebut dientri kedalam data base. Setelah melakukan proses pengentrian kedalam data base tersebut barulah penonton dapat memperoleh tiket sesuai dengan yang dipesan. Dengan adanya proses pengentrian identifikasi tersebut maka akan menghindari terjadinya kecurangan seperti pemalsuan tiket., selain itu apabila ada yang membuat onar maka akan mudah untuk dilacak melalui data perorangan yang telah di entri tadi yang dicocokkan pada tribun mana dan nomor bangku mana.

9.        Conceptual Analysis
Setelah penonton mendapatkan tiket sepak bola langkah selanjutnya dengan melakukan proses conceptual analysis, penonton memerlukan suatu translation yakni penerjemahan konsep yang telah dibuat oleh pengelola subyek yaitu mengenai beberapa kata kunci mengenai informasi terkait. Dalam hal ini penonton dapat melakukan pencarian langsung ke index document yang mengarahkan penonton menuju tribun sesuai dengan nomor bangkunya. Misalnya para penonton dapat mencari mana tempat dia akan menonton pertandingqn tersebut berdasarkan kode yang terdapat pada tiket tadi seperti àClass3/C/35/00387/2013. Maksud dari kode tersebut yaitu bahwa penonton tersebut mendapatkan tiket dengan criteria Kelas Ekonomi/Truibun 3/ dengan nomor urut bangku 387/Tahun tiket 2013. Penonton dapat melakukan pencarian dengan mudah melalui kode-kode tersebut.
Tujuan dari pembuatan organisasi informasi tiket sepak bola yaitu:
1.  Memudahkan pihak keamanan untuk mengawasi penonton, sehingga laga dapat berjalan dengan baik.
2. Memberikan kenyaman menonton pertandingan sepak bola dengan tujuan meningkatkan kepuasan penonton.
3.      Meminimalisir terjadinya kerusuhan dan jatuhnya korban jiwa.
4.      Mempermudah proses temu kembali.
5.      Mempermudah calon penonton membeli tiket.
6.      Mempermudah penonton dalam mencari bangku.

Di tulis Oleh:
KELOMPOK
Hendrik P                                          071311623003
Marchita C. A.                                  071311623004
Ach. Nizam Rifqi                              071311623009
Verry Mardiyanto                             071311623012
Siti Kurniasih                                    071311623013
Fidyanita D. L.                                  071311623014