Sunday, May 25, 2014

Seputaer Mengenai "Literasi Informasi" dalam Diagram

Tugas Literasi Informasi
“Menjabarkan keterkaitan dalam diagram berikut yang terdiri dari dalam diagram hingga ke luar, sebagai berikut: Media Literasi, ICT Literasi dan Perilaku Informasi”
Di Tulis Oleh: Verry Mardiyanto     (071311623012)
Media Literasi ini berada pada paling dalam diagram bulat ini. Jika dijelaskan, media literasi adalah tempat atau perantara untuk literasi informasi. Media ini bersifat dinamis sesuai dengan ICT iterasi yang digunakan. Artinya ICT yang di maksud adalah sebagai teknologi perantara literasi yang membuat seseorang atau sekelompok manusia mempunyai sikap yang baik atau buruk terhadap informasi yang diperoleh. Perilaku informasi bertempat di paling luar dan mencakup ICT Literasi dan Media Literasi. Keterkaitan ini saling membentuk pola yang menggambarkan Media Literasi adalah pokok atau inti utama dalam sebuah Literasi Informasi antara individu ke individu atau antara individu ke masyarakat dan sebaliknya. Selanjutnya di balik inti ada kulit pembungkusnya yaitu ICT Literasi, dalam hal ini ICT digunakan sebagai media teknologi yang digunakan untuk menyampaikan literasi kepada masyarakat. Selanjutnya dalam pola paling luar terdapat perilaku informasi. Perilaku informasi ini adalah memandang sebagai suatu sikap dan perilaku atas ICT Literasi dan Media Literasi. Keterkaitan ini sangat terkait, dengan inti media literasi dapat digerakan dengan teknologi berupa ICT literasi kemudian ICT digerakan dengan sikap dan perilaku pencarian atau penemuan informasi.
            Media Literasi ini terdiri dari berbagai media, baik itu media konvensional dan media nonkonvensional atau elektronik. Dari kedua jenis media tersebut mempunyai cara bagaimana melakukan atau menggunakan media literasi informasi sesuai dengan budaya, ilmu, situasi dan kondisi masyarakat setempat. Dalam hal ini media informasi dicocokkan dahulu dengan perkembangan media yang digunakan di masyarakat. jika media tersebut sudah elektronik maka ICT Literasi dapat digunakan secara maksimal, namun jika masih konvensional maka ICT tetap perlu digunakan sebagai stimulus media literasi yang tahap demi tahap berpindah dari konvensional ke elektronik. Selanjutnya perilaku informasi ini mencakup keseluruhan dalam penggunaan ICT Literasi dan Media Literasi Informasi. Media yang sudah ber-ICT Literasi maka perilaku informasi masyarakat didalamnya sudah dapat dikatakan Literasi Informasi sesaui dengan ICT Literasi, demikian dengan kebalikanya jika perilaku informasi di masyarakat belum memenuhi ICT Literasi Informasi maka Media Literasi yang digunakan jangan yang ber-ICT Literasi. Tahap demi tahap mengubah dari pola ketertinggalan informasi di masyarakat hingga ke pola kemajuan informasi di masyarakat. Keterkaitan tersebut saling mengikat dengan inti atom Media Literasi yang tepat sebagai ujung berjalannya Program Literasi Informasi. 

Diagramnya di Bawah ini:

Sunday, May 4, 2014

Seputar Tentang "Editing dan Pemberitaan"

Editing dan Pemberitaan
             1.     
Pengertian Editing
Kata editing dalam bahasa Indonesia adalah serapan dari Ingris. Editing berasal dari bahasa Latin, yaitu editus yang artinya ‘menyajikan kembali’. Editing dalam bahasa indonesia bersinonim dengan kata editing.
Menurut KBBI (2001), kata editor berasal dari kata edit. Dari kata edit muncul kata mengedit (kata kerja) dan editor (kata benda/nomina). Kata editor bermakna orang yang mengedit naskah tulisan atau karangan yang akan diterbitkan di majalah, surat kabar, dan sebagainya; penyunting.
Editing dalam bahasa sehari-hari sering populer di masyarakat dengan memahami sebagai kata bahasa inggris dengan arti edit, memperbaiki sesuatu atau tulisan yang dikehendakinya. Seperti dalam kalimat berikut “saya ingin mengedit gambar dengan corel draw”. Kata edit seringkali mengartikan sebagai kata kerja. Kata ini yang populernya dengan mengarah ke pekerjaan editan seharusnya bermakan sebagai pengeditan atau penyuntingan bukan edit “kaprah sehari-hari”.
Siapa itu editor? Editor adalah sebuatan bagi orang yang bisa dalam mengedit atau melakukan edit. Editor banyak sasaran pekerjaannya, seperti editor buku, editor film, editor lagu dan editor lainnya yang menyangkut sasaran untuk dilakukan pengeditan.
Penjelasan saya mengenai lingkup kerja seorang editor buku, yang ditekankan pada kunjungan ini adalah mengenai pengeditan di percetakan dan pastinya percetakan itu identik dengan buku, maka pembahasannya hanya untuk ruang lingkup buku, seharusnya kata pengeditan itu umum. Jika sesorang sudah bisa melakukan pengeditan di sasaran yang menjadi topik untuk dilakukan pengeditan maka orang tersebut sudah bisa disebut sebagai editor.
Ketika seseorang mendapatkan panggilan kerja menjadi editor buku, sebaiknya orang tersebut sudah sedikit mengetahui lingkup kerja dan tanggung jawab yang harus dilakukan oleh seorang editor buku. Ya, mereka harus mencari berbagai informasi dari sumber mana pun tenang pekerjaan yang kelak dilakukannya itu. Artinya seorang yang ingin benar-benar menjadi editor maka dia harus mengetahui seluk-beluk mengenai wilayah bidang garapannya. Jika seseorang tersebut tidak mengetahui maka keinginan menjadi editor dapat mengalami hambatan. Tanggung jawab juga harus ditekankan karena seorang editor identik dengan time line pekerjaan yang padat dan dead line waktu selesainya lumayan cepat, terkecuali beberapa buku yang mengatru didalamnya.
Lingkup kerja dan tanggung jawab peekrjaan seorang editor buku memanglah tidaklah seluas dan sebanyak yang dimiliki seorang gubernur, namun tetap saja yang melakukannya itu harus memiliki minimal sedikit gambaran berkaitan dengan bidang yang dilakukannya agar tidak terlalu kaget atau “blah–bloh” saat memulai pekerjaan di hari pertama editor melakukannya. Pekerjaan yang identik dengan profesi tidak sealu memberikan gambaran untuk mengusai banyak hala yang menyangkut di luar profesi tersebut namun pekerjaan itu harus memiliki gambaran kecil dan acuan dasarnya juga praktiknya dalam pekerjaan kenyataannya. Maka oleh karena itu, jika ingin bekerja dalam profesi harus memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman yang cukup dalam melakukan pekerjaan itu dikenyataan.
Kewajiban seorang editor. Apa yang dimaksud? Ya pastinya adalah melakukan pekerjaan pengeditan dengan baik dan benar. Kewajiban disini, mengartikan buku tersebut harus mempunyai daya citra buku itu tinggi, korelasi antarsesama didalamnya harus kuat, seperti perpaduan kalimat yang mudah dicerna, pemilihan kata, pemilihan gambar dan pemilihan isi keseluruhan buku itu agar bisa di baca oleh semua kalangan, tidak hanya satu pembaca saja.
Berbagai penjelasan mengenai kewajiban seorang editor tersirat dalam sebuah paragraf berikut ini, sebagai berikut:
Sebuah buku yang sudah, sedang, atau akan kita baca tidak akan pernah terlepas dari peranan seorang editor. Kualitas sebuah buku ditentukan oleh menarik tidaknya naskah yang dibuat serat ditentukan pula oleh kemampuan editornya. Pertanyaanya, kemampuan yang seperti apa yang bisa mempengaruhi kualitas sebuah buku?
Kemampuan yang dimaksud disini bukan hanya memperbaiki kesalahan penulisan dalam naskah. Tetapi lebih kepada kemampuan untuk memberikan citra rasa tinggi kepada naskah garapannya. Citra rasa tinggi ini berupa pilihan kata yang tepat, pemilihan gambar yang sesuai, dan kemampuan merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat atau paragraf yang mudah dicerna. Jika diruntut, kewajiban seorang editor buku, baik buku umum atau pun pelajaran ini terdiri atas tahap-tahapan penting. Apa saja tahapn-tahapan penting pekerjaan seorang editor itu?
Editor dalam percetakan buku terbagi menjadi dua, yaitu editor buku pelajaran dan editor buku umum. Tahapan-tahapan editor dalam pekerjaannya sebagai berikut:
 Editor buku pelajaran:
a.       Menerima naskah mentah
Seorang editor akan mendapatkan atau menerima naskah mentah yang telah masuk dan diterima oleh penerbit.
b.      Menyesuaikan isi naskah buku dengan kurikulum.  
Seorang editor buku wajib mengecek kesesuaian isi naskah dengan kurikulum yang sedang dipakai saat buku itu dibuat. Jika ada yang tidak sesuai maka editor berhak meminta tambahan materi pada penulis, namun terbiasanya hal tersebut harus menambahkan sendiri materi-materi yang kurang tersebut. Dibagian ini editor dituntut untuk selalu cepat dan berpikir mengenai naskah mentah ini di edit seperlunya sesuai kurikulum.
c.       Melakukan pemetaan kurikulum
Seorang editor buku pelajaran dituntut untuk melakukan pemetaan kurikulum dan membaginya dalam dua semester. Dibaginya ke dalam dua semester membuat perencanaan dalam jangka panjang dan isi buku tersebut diaplikasikan terhadap contoh yang nyata terjadi di masyarakat.
d.      Melakukan edit 1
Edit 1 adalah edit tahap pertama yang harus dilakukan oleh seorang editor. Tahap ini biasanya hanya mengedit kesalahan penulisan, kesalahan kalimat, serta perbaikan atas kalimat atau paragraf yang terkesan rancu.
e.       Melakukan edit 2
Edit 2 adalah proses mengedit naskah yang telah mengalami proses layout. Biasanya pada tahapan ini, proses mengedit lebih ke pada penggantian gambar yang kurang sesuai dan memriksa ulang naskah hasil dari edit 1.
f.       Melakukan edit monitor
Tahapn ini adalah proses edit terakhir sebelum sebuah buku dibuat bentuk dummy.
Editor buku umum
Tahapan kerjanya hampir sama dengan editor buku pelajaran hanya saja di tahap b dan tahap c yang dilakukan oleh editor buku pelajaran tidak dilakukan oleh editor buku umum.
Editor buku umum memiliki daya tulis yang tinggi. Oleh karena itu editor buku umum harus menguasai banyak bidang di masyarakat, lebih lagi terhadap tema-tema buku yang best seller.
            Sumber teks sebagian dari: Ratna, Susanti, S.S., M.Pd. Editor CV Sahabat

2.      Pengertian Pemberitaan
Pada bagian ini akan dibahas mengenai pengertian pemberitaan dari berbagai sumber. Pemberitaan selain terkait dengan media beritanya juga terkait mengenai kejadian yang berada di dalam berita itu. Media berita yang dikunjungi adalah media televisi namun tidak hanya di media televisi saja, berita dapat dimuat di media internet, media tekstual seperti koran, radio dan sebagainya. Terlebih dari itu berita-berita ini harus mengandung makna yang jelas dan dimengerti oleh siapapun.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI.2002) dikemukakan berita adalah cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat. Kalau hanya pengertian ini yang kita jadikan sebagai batasan berita, tentu akan timbul pertanyaan. Laporan kejadian apa? Peristiwa yang hangat bagaimana? Apakah  setiap kejadian yang hangat menarik dan berguna untuk disiarkan? Sebagai contoh. Anda terjatuh dan mengalami luka-luka. Ini sebuah kejadian. apakah kejadian ini menarik dan bergunan bagi pemirsa jika disiarkan? Tentu tidak! Kejadian hanya menarik perhatian dan berguna bagi keluarga, rekan atau pacara anda. Jadi batasan berita dalam KBBI belum sempurna.
Charles Dana 1996 dalam bukunya “broadcast journalism technique of Radio and TV news mengemukakan, “when a dog bites a man, the is not news, but when a man  bites a dog, the is news” artinya ketika anjing menggigit manusia itu bukan berita, tetapi ketika manusia menggigit anjing itu baru berita. Kalau definisi berita itu dicerna secara mentah-mentah, maka kita akan keliru mengartikan sebuah berita. Bagaimana kalau yang digigit  anjing itu orang terkenal. Misalnya seorang presiden. Tentu itu adalah berita yang layak disiarkan. Dalam definisi ini Charles Dana mungkin memberikan batasan berita secara filosofis, bahwa segala sesuatu yang diluar kebiasaan atau sesuatu yang unik adalah berita. Untuk apa manusia menggigit anjing, perilaku ini tentu aneh bagi orang normal.
Freda Morria dalam buku yang sama mengemukakan “News is immediate, the important, the things that have impact on our lives” artinya berita adalah sesuatu yang baru, penting uang dapat memberikan dampak dalam kehidupan manusia. Dari definisi ini ada tiga unsur pada sebuah berita yakni baru penting dan berguna bagi manusia. Definisi berita ini semakin memperluas khasanah kita tentang berita. Berita tidak hanya sekedar mengandung bagi pemirsa. Sudah memadaikah unsur-unsur berita tersebut.
Eric C Hepwood  (1996) mengemukakan, berita adalah laporan pertama dari kejadian yang penting sehingga dapat menarik perhatian umum. Definisi ini mengungkapkan tiga unsur berita yakni aktual, penting dan menarik. Persoalannya adalah apakah berita hanya bersumber pada sebuah kejadian, bagaimana dengen pernyataan manusia mengenai masalah-masalah aktual.
Sementara itu pakar komunikasi lainnya seperti JB Wahyudi mengemukakan, berita adalah laporan tentang peristiwa atau pendapat yang memiliki nilai penting, menarik bagia sebagian khalayak, masih baru dan dipublikasikan secara luas melalui media massa periodik. Peristiwa atau pendapat tidak akan menjadi berita bila tidak dipublikasiman melalui media massa periodik.
Dari definisi yang dikemukakan JB Wahyudi dapat kita pahami  bahwa berita bukan hanya kejadian atau peristiwa tetapi juga pendapat yang memiliki nilai penting, menarik dan aktual. Selain itu dalam karya jurnalistik, peristiwa atau pendapat tersebut baru dapat dikatakan sebuah berita apabila sudah  dipublikasikan melalui mendia massa periodik, surat kabar, majalah, radio, televisi. Jadi kalau berita itu disajikan melalui papan pengumuman, selebaran, leaflet atau spanduk tentu pengertiannya bukan lagi berita, tetapi itu adalah pengumuman atau pemberitahuan.
Berdasarkan  beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa berita adalah laporan tentang fakta peritiwa atau pendapat yang aktual, menarik, berguna dan dipublikasikan melalui media massa periodik, seperti: surat kabar, majalah, radio dan televisi. Namun, definisi ini masih bersifat umum. Belum secara spesifik menjelaskan mengenai definisi berita televisi.
Berita televisi bukan hanya sekadar melaporkan fakta tulisan/narasi, tetapi juga gambar (visual), baik gambar diam seperti foto, gambar peta, grafis, maupun film berita yakni rekaman peristiwa yang menjadi topik berita dan mampu memikat pemirsa. Bagi berita televisi gambar adalah primadona atau paling utama daripada narasi. Kalua gambar berita yang disiarkan mampu bercerita banyak, maka narasi hanya sebagai penunjang saja. Berita televisi tanpa gambara tidak ubahnya dengan berita radio.
Jadi dapat kita simpulkan berita televisi adalah laporan tentang fanta peristiwa  atau pendapat manusia atau kedua-duanya yang disertai gambar aktual, menarik, berguna, dan disiarkan melalui media massa televisi secara periodik.
Dari definisi tersebut, maka berita televisi dapat kita bagi menjadi tiga jenis;
1. Berita fakta peristiwa
2. Berita fakta pendapat
3. Berita fakta peristiwa dan pendapat 
Berita fakta peristiwa adalah laporan tentang segala sesuatu peristiwa sebagaimana adanya, misalnya kebakaran, bencana alam, dan kecelakaan. Berita ini disusun hanya berdasarkan pengamatan  wartawan dan tempat kejadian perkara (TKP).
Berita fakta pendapat adalah laporan tentang pernyataan pendapat manusia mengenai segala sesuatu  yang tengah aktual,  misalnya, pendapat pakar mengenai implikais kenaikan BBM, pendapat berbagai kalangan masyarakat mengenai 100 hari Kabinet Susilo bambang Yudhoyono (SBY) dan tanggapan SBY atas komentar kinerja kabinetnya. Berita ini disusun hanya berdasarkan tanggapan saja dan tidak ada peristiwa.
Berita fakta peristiwa dan fakta pendapat adalah laporan tentang segala sesuatu peristiwa yang terjadi dan pendapat manusia yang berkompeten mengenai fakta peristiwa tersebut. Misalnya ratusan ribu TKI dari negeri jiran kembali ke tanah air, kecelakanaan di jalan tol akibat penghentian kendaraan tanpa prosedur sebelum iringan-iringan Presiden SBY lewat dan Jakarta di landa banjir. Berita peristiwa  tersebut disisipi  dengan pendapat berbagai kalangan mengenai masalah itu, misalnya komentar TKI, korban, polisi, pengamat, dan pejabat pemerintah. Jadi berita ini disusun berdasarkan fakta peristiwa dan disisipi tanggapan manusia yang berkompenten mengenai masalah itu.
Pemberitaan berasal dari imbuhan dengan awalan depan-pem dan akhiran-an. Pemberitaan bermakna sebagai kata kerja melakukan pemberitaan. Pemberitaan secara umum identik dengan meliputi kejadian yang memiliki daya jual kepada masyarakat. Pemberitaan ini identik dengan media massa, media elektronik karena sebagai media penyampaiannya.
Pemberitaan berarti seolah melakukan pekerjaan, dengan demikian berarti pemberitaan adalah kegiatan untuk meliput suatu peristiwa yang terjadi, peristiwa tersebut identik sedang terjadi dan mempunyai retensi waktu yang lama. Setelah kegiatan ini diperlukan pengeditan tulisan dan gambar. Kegiatan tersebut diperlukan untuk mensinkronasikan tulisan dengan gambar berita yang sedang terjadi.
            Sebagian bersumber dari: Sainuddin S.Sos, Teknik Penulisan Berita TV, UMB

Sunday, April 27, 2014

PENJELASAN SINGKAT TENTANG MODEL PERILAKU PENEMUAN INFORMASI WILSON DI KOMUNITAS MAHASISWA SEBAGAI PEMANDU WISATA MINAT KHUSUS



Keberadaan informasi di era dunia kekinian ini sudah tidak dapat terbendung lagi. Informasi yang diterima atau dibuat oleh seseorang atau lembaga membuat keberadaan informasi semakin menunjukkan ciri khas dari informasi. Kemudahan berinteraksi antara sesama manusia menjadikan informasi sebagai pengetahuan yang wajib dimiliki oleh setiap individu. Informasi saat ini dapat dibedakan menjadi informasi lisan dan informasi tulisan. Informasi lisan menjelaskan mengenai informasi yang didapatkan dalam komunikasi langsung secara lisan antara sesama individu, sedangkan informasi tulisan menjelaskan mengenai informasi yang berada pada media tulisan seperti, buku, arsip, daun lontar, dan media lain yang memuat sebuah tulisan. Informasi yang berhubungan erat dengan individu menumbuhkan sikap atau perilaku yang berhubungan dengan informasi. Perilaku informasi dalam dunia kekinian membuat hubungan-hubungan yang ada di masyarakat terdapat kesenjangan. Kesenjangan ini bisa di lihat dalam dunia era teknologi kini. Perbedaan perilaku masyarakat desa dengan masyarakat kota berbeda jauh. Dari perbedaan tersebut mengakibatkan alur informasi di antara kedua masyarakat tersebut menjadi berbeda. Dalam perbedaan tersebut menghasilkan beberapa alternatif yang dapat dijadikan sumber untuk mensiasati informasi agar tepat sasaran kepada pengguna. Informasi ini juga berguna untuk memudahkan dalam menjalankan suatu proses tujuan dari organisasi/komunitas, misalkan di masyarakat desa untuk mencapai desa yang makmur dalam swasembada pangan maka informasi berkaitan dengan teknologi pertanian harus diterapkan pada pertanian unggul yang menjadikan ciri khas di desa tersebut. Untuk bidang pekerjaan yang mendukung dalam masyarakat desa sebagai pengembangan desa adalah pekerjaan guide/pemimpin perjalanan wisata jika desa itu adalah desa wisata. Namun dalam masa sekarang, komunitas guide yang telah menjamur di desa wisata tidak hanya berasal dari dalam masyarakat desa itu sendiri melainkan juga berasal dari luar masyarakat desa yang mampu melihat peluang yang ada. Salah satu komunitas itu adalah mahasiswa yang berkegiatan di desa wisata.
Model perilaku penemuan informasi oleh T.D Wilson di mulai dari individu yang membutuhkan informasi di mana wilson menjelaskan mengenai pengalaman yang subyektif terjadi hanya dalam pikiran orang yang membutuhkan dan akibatnya tidak secara langsung dapat diakses oleh pengguna, artinya pengguna tidak dapat mengakses informasi karena hanya terdapat dalam pikiran orang, sehingga perlu dijabarkan dalam sebuah laporan yang mengedukasi seorang pengguna agar bisa melakukan sebuah penemuan informasi yang dibutuhkan.[1] Berikut penjelasan model tersebut dengan contoh komunitas mahasiswa sebagai pemandu wisata minat khusus (sandboarding) sebagai pelaku penemuan informasi. Komunitas ini memberikan gambaran bagaimana perilaku penemuan informasi dilakukan dan dimanfaatkan sebaik mungkin dalam menjaring konsumen/pelanggan yang ingin berwisata sandboarding. Sandboarding adalah wisata minat khusus yang menggunakan pasir halus sebagai media kegiatannya. Tempat kegiatan ini di gumuk pasir daerah parangtritis dan gumuk pasir gunung bromo.

Gambar 1. Model Wilson, Perilaku Penemuan Informasi.[2]
Model Wilson penemuan informasi dapat dijelaskan sebagai berikut:
§  Context of Information Need dalam model ini menjabarkan lingkungan sebagai model terluar. Dalam komunitas ini, lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan para penggiat sandboarding. Penggiat sandboarding ini bisa berasal dari seluruh kalangan masyarakat, mahasiswa, anak-anak, orang tua, wartawan dan masyarakat umum, namun mempunyai kriteria tertentu seperti kuat dan tahan debu dan pasir. Pemetaan lingkungan ini perlu guna untuk analisis model di dalam bahasan ini.
o  Social Role atau peran sosial. Komunitas ini memberikan peran sosial kepada masyarakat sekitar agar dapat meningkatkan pendapatan dengan berjualan makanan dan minuman di sekitar area wisata. Peran berikutnya adalah memperkenalkan dan mengembangkan desa wisata agar terkenal kepada dunia luas lewat informasi. Penemuan-penemuan ini membuat aktifitas komunitas ini semakin sering diliput oleh stasiun televisi dari luar atau dalam negeri sehingga peran sosial dapat lebih bermakna.
·      Person/individu ini adalah orang yang melakukan aktifitas kegiatan sandboarding. Orang yang dimaksud adalah aktifis dalam melakukan kegiatan sandboarding, bisa mahasiswa atau masyarakat umum. Dalam diagram Wilson, individu mempunyai aspek-aspek yang harus dimiliki agar dalam penemuan informasi dapat dengan mudah dilakukan. Aspek afektif berupa emosi, perasaan terhadap objek sikap, sedangkan komponen koginitif berisikan ide, pengetahuan, keyakinan, anggapan mengenai objek sikap dan komponen perilaku adalah komponen untuk bertingkah laku tertentu terhadap objek sikap.[3] Wilson dalam modelnya menjabarkan seperti berikut dengan kaitan komunitas ini
Ø Physiological yang berarti psikologi/kejiwaan individu dalam melakukan kegiatan ini. Sikologi ini berhubungan dengan mental dan fisik mahasiswa. Artinya mahasiswa ini harus mempunyai sikap dalam menyeimbangkan perkuliahan, keluarga dan aktifitas dalam komunitas ini. Kesehatan fisik juga harus disiapkan, karena dapat menunjang kegiatan ini. Mental dan kesiapan fisik juga memberikan kemudahan dalam penemuan informasi dikemudian hari.
Ø Affective ini memperjelas individu dalam sikap bertemu dengan pelanggan dan masyarakat sekitar serta antara teman dalam satu komunitas. Keseriusan dalam berkegiatan menghasilkan teknik-teknik bermain sandboarding yang bagus, akhirnya perilaku ini menghasilkan keindahan dalam diliput oleh wartawan.
Ø Cognitive States digunakan untuk ide-ide terbaru dalam melakukan teknik sandboarding. Pengetahuan dalam menjaring pelanggan. Ide-ide dalam membuat papan sanboarding dan ide-ide dalam meningkatkan penghasilan individu dan komunitas serta masyarakat di sekitar area wisata.
§  Barriers/hambatan ini adalah faktor-faktor penghambat dalam melakukan penemuan informasi, berasal dari individu itu sendiri, hubungan peran dan lingkungan sekitar. Faktor ini menjelaskan bagaimana informasi tidak masuk langsung ke komunitas, yang diakibatkan oleh individu yang susah dalam berkegiatan, peran sosial yang kurang menguntungkan banyak pihak dan lingkungan masyarakat yang kurang mendukung. Oleh karena itu hambatan ini harus segera di atasi untuk kemudahan dalam melakukan penemuan informasi selanjutnya.
Perilaku penemuan informasi dalam komunitas mahasiswa yang menjalankan pemandu wisata minat khusus harus disinergikan dengan perilaku individu dan perilaku masyarakat di lingkungan sekitar. Akhir tujuan dari pemandu wisata ini dapat tercapai serta dapat memaksimalkan pengembangan desa wisata yang dapat meningkatkan peran sosial di masyarakat.


Daftar Pustaka
Martini, Nina Aryani dan Ida Farida. 2010. Materi Pokok Psikologi Perpustakaan. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka.
Wilson, T.D. 1997. Information Behavior: An Interdisciplinary Perspective, Journal Information Processing & Management. 33(4): 551-572.
Wilson, T.D. 1999. Models in Information Behavior Research, Journal of Documentation. 55(3): 249-270.


[1] T.D. Wilson, “Information Behaviour: An Interdisciplinary Perspective”, dalam Journal Information Processing & Management, vol. 33 (4) (London: Elsevier Science, 1997), hlm. 552.

[2] T.D. Wilson, “Models in Information Behaviour Research”, dalam Journal of Documentation, vol. 55 (3) (London: Aslib, 1999), hlm. 252.
[3] Nina Aryani Martini dan Ida Farida, Materi Pokok Psikologi Perpustakaan (Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka, 2010), hlm. 5.12.