Sunday, September 21, 2014

Sekilas tentang "Pengertian Organisasi, Kemampuan, Penilaian dan Kinerja"

Pengertian Organisasi 
Organisasi adalah kesatuan sosial yang terdiri dari orang atau kelompok yang berinterkasi antar satu sama lain. Pandangan terhadap suatu organisasi sangat bergantung pada konteks dan perspektif tertentu dari orang yang merumuskannya. Ada beberapa uraian tentang pandangan mengenai oraganisasi, slaah satunya adalah yang dikemukakan oleh Thompson dalam Thoha (1992), bahwa organisasi adalah “an organization is a highly rationalized and impersonal integration of a large member of specialists cooperating to achieve some announched specific objectif”.   Sedangkan ada pandangan lain dari Robbin (1996), merumuskan bahwa organisasi :“an organization is a consciously coordinated social entity, with a relatively indentiviable boundary, that functions on a relatively continuous basis to achieve a common goal or set of goals”.
Dari kedua pandangan di atas, jelas terlihat jelas perspektif yang berbeda. Thompson dalam Thoha (1992) mengatakan bahwa organisasi dengan gaya penekanan pada tingkat rasionalitas dalam bekerjasama yang terkordinasi dengan menekankan pentingnya pembagian tugas sesuai dengan keahlian masing-masing anggota organisasi. Sedangkan menurut Robbin (1996) sendiri memandang organisasi sebagai suatu kesatuan social yang terdiri dari orang atau kelompok orang yang berinteraksi satu sama lain. Pola interaksi tersebut tidak serta merta timbul, tetapi telah dipikirkan terlebih dahulu.
Organisasi itu sendiri merupakan suatu tata hubungan sosial dimana seseorang individu melakukan proses interaksi dengan sesamanya di dalam sebuah organisasi baik diantara pimpinan dan anggota organisasi yang melakukan hubungan interaksi dengan yang lainnya tidak didasarkan atas kemauan sendiri, akan tetapi mereka dibatasi oleh peraturan tertentu.
Dalam sebuah organisasi memiliki tata aturan yang dimana tata aturan tersbut bisa membedakan suatu oraganisasi dengan kumpulan kemasyarakatan. Organisasi merupakan suatu keranga hubungan yang berstruktur dimana di dalamnya berisi wewenang, tanggung jawab dan pembagian kerja untuk menjalankan suatu fungsi tertentu. Adanya hirarki atau tingkatan, mulai dari pimpinan sampai bawahan staf. Dari pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa orang-orang terlibat dalam oragnisasi harus tunduk pada suatu aturan untuk mengadakan kerjasama dan interaksi guna mencapai tujuan bersama.

1.      Kemampuan
Menurut Spencer (Moeheriono, 2010:2) Kemampuan atau kompetensi adalah karakteristik yang mendasari seseorang berkaitan dengan efektifitas kinerja individu dalam pekerjaannya atau karakteristik dasar individu yang memiliki huhungan kausal atau sebagai sebab akibat dengan kriteria yang dijadikan acuan, efektif atau berkinerja prima atau superior di tempat kerja pada situasi tertentu.  Mathis dan Jackson (2001:83) menjelaskan bahwa kemampuan adalah kemampuan alami yang melibatkan bakat dan minat yang tepat untuk pekerjaan yang diberikan.  Robbins  (2001:46) berpendapat bahwa kemampuan adalah suatu kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Dimana kemampuan individu pada hakikatnya tersusun dari dua faktor yaitu: Kemampuan intelektual dan kemampuan fisik.
a. Kemampuan Intelektual: kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan mental. Salah satu cara mengetahui kemampuan intelektual adalah dengan menggunakan Tes IQ. Ada tujuh dimensi yang sering dikutip yang membentuk kemampuan intelektual yaitu: 
1. Kecerdasan numerik yaitu kemampuan untuk menghitung cepat dan tepat.
2. Pemahaman verbal yaitu kemampuan memahami apa yang dibaca, didengar serta hubungan antar kata.
3. Kecepatan perceptual yaitu kemampuan mengenali kemiripan dan beda visual dengan cepat dan tepat.
4. Penalaran induktif yaitu kemampuan menganalisa suatu urutan logis dalam suatu masalah dan kemudian memecahkan masalah.
5. Penalaran deduktif yaitu, kemampuan menggunakan logika dan menilai implikasi dari suatu argumen.
6. Visualisasi ruang yaitu, kemampuan membayangkan bagaimana suatu obyek akan tampak seandainya posisi dalam ruang dirubah.
7.  Ingatan yaitu, kemampuan menahan dan mengenang kembali pengalaman masa lalu.
b. Kemampuan Fisik: kemampuan yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan dan ketrampilan. Ada sembilan kemampuan dasar fisik dasar yaitu: 
1. Kekuatan dinamis yaitu kekuatan untuk menggenakan kekuatan otot secara berulang atau sinambung sepanjang kurun waktu tertentu.
2. Kekuatan tubuh, yaitu kemampuan untuk mengenakan kekuatan otot dengan menggunakan otot-otot perut (terutama perut).
3.  Kekuatan statis yaitu kemampuan mengenakan kekuatan terhadap obyek luar.
4.  Kekuatan yaitu kekuatan mengahabiskan suatu maksimum energi eksplosif dalam satu atau sederetan tindakan eksplosif.
5. Keluwesan extent yaitu kemampuan menggerakkan otot tubuh dan merenggang punggung sejauh mungkin. 
6.  Keluwesan dinamis yaitu kemampuan melakukan gerakan cepat.
7. Koordinasi tubuh yaitu kemampuan mengkoordinasikan tndakan-tindakan serentak dari bagian-bagian tubuh yang berlainan.
8. Keseimbangan yaitu kemampuan mempertahankan keseimbangan meskipun ada kekuatan yang mengganggu keseimbangan tubuh.
9.  Stamina yaitu kemampuan melanjutkan upaya maksimum yang menuntut upaya yang diperpanjang sepanjang suatu kurun waktu.  

2.      Pengertian Penilaian
Menurut Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes.  Menurut Suharsimi Arikunto penilaian adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif.  Menurut Djemari Mardapi, penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran. Menurut Cangelosi, penilaian adalah keputusan tentang nilai.
Menurut Akhmat Susrajat penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut. Secara khusus, dalam konteks pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar, dan penentuan kenaikan kelas. Melalui penilaian dapat diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar peserta didik, guru, serta proses pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan informasi itu, dapat dibuat keputusan tentang pembelajaran, kesulitan peserta didik dan upaya bimbingan yang diperlukan serta keberadaan kurikukulum itu sendiri.

3.      Pengertian Kinerja
Menurut  Moeheriono (2010:61) Kinerja adalah  hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sesuai dengan kewenangan dan tugas tanggung jawab masing-masing, dalam upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika.
Menurut Robbins (2001:187) Kinerja diartikan fungsi dari interaksi antara kemampuan (ability ) dan motivasi (motivation) sehingga kinerja = f ( A x M). Jika ada yang tidak memadai kinerja akan mempengaruhi secara  negatif, disamping motivasi perlu juga dipertimbangkan kemampuan dan kapabilitas untuk menjelaskan dan menilai kinerja seorang pegawai. Dengan motivasi yang tinggi akan mempunyai kinerja tinggi dan sebaliknya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua faktor  yaitu motivasi dan kemampuan mempunyai hubungan yang positif.
Tiga faktor utama yang mempengaruhi kinerja individu menurut Mathis dan Jackson (2001:83) adalah kemampuan individu untuk melakukan  pekerjaan tersebut, tingkat usaha yang dicurahkan dan dukungan organisasi. Menurut Sastrohadiwiryo (2003:235) pada umumnya kinerja dipengaruhi oleh kecakapan, ketrampilan, pengalaman dan kesanggupan tenaga kerja yang bersangkutan.
Menurut Sastrohadiwiryo (2003:231) penilaian kinerja adalah suatu kegiatan yang dilakukan manajemen untuk menilai kinerja tenaga kerja dengan cara membandingkan  kinerja dengan uraian diskripsi dalam suatu periode tertentu. Unsur-unsur yang perlu diadakan penilaian dalam proses penilaian kinerja, adalah sebagai berikut :
a.    Kesetiaan: tekad dan kesanggupan mentaati melaksanakan dan mengamalkan sesuatu yang ditaati dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
b.    Prestasi kerja: kinerja yang dicapai oleh tenaga kerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang diberikan kepadanya.
c.    Tanggung jawab: kesanggupan seorang tenaga kerja dalam menyelenggarakan tugas dan pekerjaan yang diserahkan kepadanya sebaik-baiknya dan tepat waktu serta berani memikul resiko atas keputusan yang telah diambilnya atau tindakan yang dilakukannya.
d.   Ketaatan: kesanggupan seorang tenaga kerja untuk mentaati segala ketetapan, perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku.
e.    Kejujuran: ketulusan hati seorang tenaga kerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan serta kemampuan untuk tidak menyalahkangunakan wewenang yang telah diberikan kepadanya.
f.     Kerjasama: kemampuan seorang tenaga kerja untuk bekerja bersama-sama dengan orang lain  dalam menyelesaikan suatu tugas dan pekerjaan yang telah ditetapkan
g.    Prakarsa: kemampuan seorang tenaga kerja untuk mengambil keputusan, langkah-langkah atau melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas pokok tanpa menunggu perintah dan bimbingan dari manajemen.
h.    Kepemimpinan: kemampuan yang dimilki seorang tenaga kerja untuk menyakinkan orang lain sehingga dapat dikerahkan secara maksimum untuk melaksanakan tugas pokok.
Pengukuran kinerja digunakan untuk menilai keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan kegiatan/program/kebijaksanaan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan misi dan visi organisasi. Pengukuran kinerja mencakup indikator–indikator pencapaian kinerja. Pekerjaan yang dilakukan karyawan harus memiliki kuantitas kerja tinggi dapat memuaskan yang bersangkutan dan perusahaan.  

4.      Penilaian Kinerja
Dharma, (2001) menyatakan bahwa hampir seluruh cara penilaian kinerja mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut.
1) Kuantitas yaitu jumlah yang harus diselesaikan
2) Kualitas yaitu mutu yang dihasilkan
3) Ketepatan waktu yaitu sesuai atau tidaknya dengan waktu yang telah direncanakan.
Bernardin dan Russel (dalam Martoyo, 2000) mengajukan enam kriteria primer yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja sebagai berikut.
1)      Quality
 Merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan.
2)      Quantity
Merupakan jumlah yang dihasilkan misalnya : jumlah rupiah, jumlah unit, jumlah siklus kegiatan yang diselesaikan.
3)      Timeliness
Merupakan tingkat sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan pada waktu yang dikehendaki dengan memperhatikan koordinasi output lain serta waktu yang tersedia untuk kegiatan yang lain.
4)    Cost Effective
Yaitu tingkat sejauh mana penerapan sumber daya manusia, keuangan, teknologi, material dimaksimalkan untuk mencapai hasil tertinggi atau pengurangan kerugian dari setiap unit pengguna sumber daya.
4)      Need for Supervisor
Merupakan tingkat sejauh mana seorang pekerja dapat melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa memerlukan pengawasan seorang supervisor untuk mencegah tindakan yang kurang diinginkan.
5)      Interpersonal Import
Merupakan tingkat sejauh mana karyawan memelihara harga diri, nama baik dan kerja sama di antara rekan kerja dan bawahan.
Penerapan standar diperlukan untuk mengetahui apakah kriteria karyawan telah sesuai dengan sasaran yang telah diharapkan, sekaligus melihat besarnya penyimpangan dengan cara membandingkan antara hasil pekerjaan aktual dengan hasil yang diharapkan. Oleh karena itu adanya suatu standar yang baku merupakan tolak ukur bagi kinerja yang akan dievaluasi.
4.1. Metode-metode penilaian kinerja
Aspek penting dari suatu sistem penilaian kinerja adalah standar yang jelas. Sasaran utama dari adanya standar tersebut ialah teridentifikasinya unsur-unsur kritikal suatu pekerjaan. Standar itulah yang merupakan tolok ukur seseorang melaksanakan pekerjaannya. Standar yang telah ditetapkan tersebut harus mempunyai nilai komparatif yang dalam penerapannya harus dapat berfungsi sebagai alat pembanding antara prestasi kerja seorang karyawan dengan karyawan lain yang melakukan pekerjaan sejenis.
Metode penilaian prestasi kinerja pada umumnya dikelompokkan menjadi 3 macam, yakni: (1) Result-based performance evaluation, (2) Behavior-based performance evaluation, (3) Judgment-based performance evaluation, sebagai berikut, (Robbins, 2003).
1)      Penilaian performance berdasarkan hasil (Result-based performance evaluation). Tipe kriteria performansi ini merumuskan performansi pekerjaan berdasarkan pencapaian tujuan organisasi, atau mengukur hasil-hasil akhir (end results). Sasaran performansi bisa ditetapkan oleh manajemen atau oleh kelompok kerja, tetapi jika menginginkan agar para pekerja meningkatkan produktivitas mereka, maka penetapan sasaran secara partisipatif, dengan melibatkan para pekerja, akan jauh berdampak positif terhadap peningkatan produktivitas organisasi. Praktek penetapan tujuan secara partisipatif, yang biasanya dikenal dengan istilah Management By Objective (MBO), dianggap sebagai sarana motivasi yang sangat strategis karena para pekerja langsung terlibat dalam keputusan-keputusan perihal tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Para pekerja akan cenderung menerima tujuan-tujuan itu sebagai tujuan mereka sendiri, dan merasa lebih bertanggung jawab untuk dan selama pelaksanaan pencapaian tujuan-tujuan itu.
2)      Penilaian performansi berdasarkan perilaku (Behavior Based Performance Evaluation). Tipe kriteria performansi ini mengukur sarana (means) pencapaian sasaran (goals) dan bukannya hasil akhir (end result). Dalam praktek, kebanyakan pekerjaan tidak memungkinkan diberlakukannya ukuran-ukuran performansi yang berdasarkan pada obyektivitas, karena melibatkan aspek-aspek kualitatif. Jenis kriteria ini biasanya dikenal dengan BARS (behaviorally anchored rating scales) dibuat dari critical incidents yang terkait dengan berbagai dimensi performansi. BARS menganggap bahwa para pekerja bisa memberikan uraian yang tepat mengenai perilaku atau perfomansi yang efektif dan yang tidak efektif. Standar-standar dimunculkan dari diskusi- diskusi kelompok mengenai kejadian-kejadian kritis di tempat kerja. Sesudah serangkaian session diskusi, skala dibangun bagi setiap dimensi pekerjaan. Jika tercapai tingkat persetujuan yang tinggi diantara para penilai maka BARS diharapkan mampu mengukur secara tepat mengenai apa yang akan diukur. BARS merupakan instrumen yang paling bagus untuk pelatihan dan produksi dari berbagai departemen. Sifatnya kolaboratif memakan waktu yang banyak dan biasa pada jenis pekerjaan tertentu, adalah job specific, tidak dapat dipindahkan dari satu organisasi ke organisasi lain.
3)      Penilaian performansi berdasarkan judgement (Judgement-Based Performance Evaluation) Tipe kriteria performansi yang menilai dan/atau mengevaluasi perfomansi kerja pekerja berdasarkan deskripsi perilaku yang spesifik, quantity of work, quality of work, job knowledge, cooperation,  initiative, dependability, personal qualities dan yang sejenis lainnya. Dimensi-dimensi ini biasanya menjadi perhatian dari tipe yang satu ini.
(1) Quantity of work, jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode waktu yang ditentukan;
(2) Quality of work, kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan kesiapannya;
(3) Job knowledge, luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan ketrampilannya;
(4) Cooperation, kesediaan untuk bekerja sama dengan orang lain (sesama anggota organisasi).
(5) Initiative, semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam memperbesar tanggung jawabnya;
(6) Personal qualities, menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramah-tamahan dan integritas pribadi.




            Daftar Pustaka
Arikunto, S & Jabar. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Calongesi, James S. 1995. Merancang Tes untuk Menilai Prestasi Siswa. Bandung : ITB
Mardapi, Djemari (2003). Desain Penilaian dan Pembelajaran Mahasiswa. Makalah Disajikan dalam Lokakarya Sistem Penjaminan Mutu Proses Pembelajaran tanggal 19 Juni 2003 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Mathis, Robert L dan John H Jackson, 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia,
Buku I . Jakarta : Salemba Empat.
Moeheriono, 2010,  Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi, Cetakan kedua,
Jakarta: Ghalia Indonesia.
Robbin, P. Stephen. 2001.  Perilaku Organisasi. Konsep, Kontroversi, Aplikasi.
Jilid I. Edisi Kedelapan. Jakarta: Prenhallindo.
Sastrohadiwiryo, Siswanto,  2003, Manajemen Tenaga Kerja Indonesia,  Jakarta :
Bumi Aksara
Sudrajat, Akhmad. 2008. Penilaian Hasil Belajar. http://akhmadsudrajad.wordpress.com/2008/05/01/penilaian-hasil-belajar/. Diakases 03 Juni 2014
Thoha, Miftah. 1992. Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya. Fisipol: Universitas Gadjah Mada
Zainul, Asmawi dan Noehi Nasution. 2001. Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional



>>>"SPONSHORSHIP"<<<
Layanan Catering di Bekasi
Catering Murah di Bekasi
Catering Hemat di Bekasi
Catering Pernikahan di Bekasi
Catering untuk Karyawan Perusahaan di Bekasi
email Permintaan Menu dan Daftar Harga di> cpamela93@gmail.com
Call (24 Jam) > 021-88333158 / 085694691159 / 087878788158 

Sunday, May 25, 2014

Seputaer Mengenai "Literasi Informasi" dalam Diagram

Tugas Literasi Informasi
“Menjabarkan keterkaitan dalam diagram berikut yang terdiri dari dalam diagram hingga ke luar, sebagai berikut: Media Literasi, ICT Literasi dan Perilaku Informasi”
Di Tulis Oleh: Verry Mardiyanto     (071311623012)
Media Literasi ini berada pada paling dalam diagram bulat ini. Jika dijelaskan, media literasi adalah tempat atau perantara untuk literasi informasi. Media ini bersifat dinamis sesuai dengan ICT iterasi yang digunakan. Artinya ICT yang di maksud adalah sebagai teknologi perantara literasi yang membuat seseorang atau sekelompok manusia mempunyai sikap yang baik atau buruk terhadap informasi yang diperoleh. Perilaku informasi bertempat di paling luar dan mencakup ICT Literasi dan Media Literasi. Keterkaitan ini saling membentuk pola yang menggambarkan Media Literasi adalah pokok atau inti utama dalam sebuah Literasi Informasi antara individu ke individu atau antara individu ke masyarakat dan sebaliknya. Selanjutnya di balik inti ada kulit pembungkusnya yaitu ICT Literasi, dalam hal ini ICT digunakan sebagai media teknologi yang digunakan untuk menyampaikan literasi kepada masyarakat. Selanjutnya dalam pola paling luar terdapat perilaku informasi. Perilaku informasi ini adalah memandang sebagai suatu sikap dan perilaku atas ICT Literasi dan Media Literasi. Keterkaitan ini sangat terkait, dengan inti media literasi dapat digerakan dengan teknologi berupa ICT literasi kemudian ICT digerakan dengan sikap dan perilaku pencarian atau penemuan informasi.
            Media Literasi ini terdiri dari berbagai media, baik itu media konvensional dan media nonkonvensional atau elektronik. Dari kedua jenis media tersebut mempunyai cara bagaimana melakukan atau menggunakan media literasi informasi sesuai dengan budaya, ilmu, situasi dan kondisi masyarakat setempat. Dalam hal ini media informasi dicocokkan dahulu dengan perkembangan media yang digunakan di masyarakat. jika media tersebut sudah elektronik maka ICT Literasi dapat digunakan secara maksimal, namun jika masih konvensional maka ICT tetap perlu digunakan sebagai stimulus media literasi yang tahap demi tahap berpindah dari konvensional ke elektronik. Selanjutnya perilaku informasi ini mencakup keseluruhan dalam penggunaan ICT Literasi dan Media Literasi Informasi. Media yang sudah ber-ICT Literasi maka perilaku informasi masyarakat didalamnya sudah dapat dikatakan Literasi Informasi sesaui dengan ICT Literasi, demikian dengan kebalikanya jika perilaku informasi di masyarakat belum memenuhi ICT Literasi Informasi maka Media Literasi yang digunakan jangan yang ber-ICT Literasi. Tahap demi tahap mengubah dari pola ketertinggalan informasi di masyarakat hingga ke pola kemajuan informasi di masyarakat. Keterkaitan tersebut saling mengikat dengan inti atom Media Literasi yang tepat sebagai ujung berjalannya Program Literasi Informasi. 

Diagramnya di Bawah ini:

Sunday, May 4, 2014

Seputar Tentang "Editing dan Pemberitaan"

Editing dan Pemberitaan
             1.     
Pengertian Editing
Kata editing dalam bahasa Indonesia adalah serapan dari Ingris. Editing berasal dari bahasa Latin, yaitu editus yang artinya ‘menyajikan kembali’. Editing dalam bahasa indonesia bersinonim dengan kata editing.
Menurut KBBI (2001), kata editor berasal dari kata edit. Dari kata edit muncul kata mengedit (kata kerja) dan editor (kata benda/nomina). Kata editor bermakna orang yang mengedit naskah tulisan atau karangan yang akan diterbitkan di majalah, surat kabar, dan sebagainya; penyunting.
Editing dalam bahasa sehari-hari sering populer di masyarakat dengan memahami sebagai kata bahasa inggris dengan arti edit, memperbaiki sesuatu atau tulisan yang dikehendakinya. Seperti dalam kalimat berikut “saya ingin mengedit gambar dengan corel draw”. Kata edit seringkali mengartikan sebagai kata kerja. Kata ini yang populernya dengan mengarah ke pekerjaan editan seharusnya bermakan sebagai pengeditan atau penyuntingan bukan edit “kaprah sehari-hari”.
Siapa itu editor? Editor adalah sebuatan bagi orang yang bisa dalam mengedit atau melakukan edit. Editor banyak sasaran pekerjaannya, seperti editor buku, editor film, editor lagu dan editor lainnya yang menyangkut sasaran untuk dilakukan pengeditan.
Penjelasan saya mengenai lingkup kerja seorang editor buku, yang ditekankan pada kunjungan ini adalah mengenai pengeditan di percetakan dan pastinya percetakan itu identik dengan buku, maka pembahasannya hanya untuk ruang lingkup buku, seharusnya kata pengeditan itu umum. Jika sesorang sudah bisa melakukan pengeditan di sasaran yang menjadi topik untuk dilakukan pengeditan maka orang tersebut sudah bisa disebut sebagai editor.
Ketika seseorang mendapatkan panggilan kerja menjadi editor buku, sebaiknya orang tersebut sudah sedikit mengetahui lingkup kerja dan tanggung jawab yang harus dilakukan oleh seorang editor buku. Ya, mereka harus mencari berbagai informasi dari sumber mana pun tenang pekerjaan yang kelak dilakukannya itu. Artinya seorang yang ingin benar-benar menjadi editor maka dia harus mengetahui seluk-beluk mengenai wilayah bidang garapannya. Jika seseorang tersebut tidak mengetahui maka keinginan menjadi editor dapat mengalami hambatan. Tanggung jawab juga harus ditekankan karena seorang editor identik dengan time line pekerjaan yang padat dan dead line waktu selesainya lumayan cepat, terkecuali beberapa buku yang mengatru didalamnya.
Lingkup kerja dan tanggung jawab peekrjaan seorang editor buku memanglah tidaklah seluas dan sebanyak yang dimiliki seorang gubernur, namun tetap saja yang melakukannya itu harus memiliki minimal sedikit gambaran berkaitan dengan bidang yang dilakukannya agar tidak terlalu kaget atau “blah–bloh” saat memulai pekerjaan di hari pertama editor melakukannya. Pekerjaan yang identik dengan profesi tidak sealu memberikan gambaran untuk mengusai banyak hala yang menyangkut di luar profesi tersebut namun pekerjaan itu harus memiliki gambaran kecil dan acuan dasarnya juga praktiknya dalam pekerjaan kenyataannya. Maka oleh karena itu, jika ingin bekerja dalam profesi harus memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman yang cukup dalam melakukan pekerjaan itu dikenyataan.
Kewajiban seorang editor. Apa yang dimaksud? Ya pastinya adalah melakukan pekerjaan pengeditan dengan baik dan benar. Kewajiban disini, mengartikan buku tersebut harus mempunyai daya citra buku itu tinggi, korelasi antarsesama didalamnya harus kuat, seperti perpaduan kalimat yang mudah dicerna, pemilihan kata, pemilihan gambar dan pemilihan isi keseluruhan buku itu agar bisa di baca oleh semua kalangan, tidak hanya satu pembaca saja.
Berbagai penjelasan mengenai kewajiban seorang editor tersirat dalam sebuah paragraf berikut ini, sebagai berikut:
Sebuah buku yang sudah, sedang, atau akan kita baca tidak akan pernah terlepas dari peranan seorang editor. Kualitas sebuah buku ditentukan oleh menarik tidaknya naskah yang dibuat serat ditentukan pula oleh kemampuan editornya. Pertanyaanya, kemampuan yang seperti apa yang bisa mempengaruhi kualitas sebuah buku?
Kemampuan yang dimaksud disini bukan hanya memperbaiki kesalahan penulisan dalam naskah. Tetapi lebih kepada kemampuan untuk memberikan citra rasa tinggi kepada naskah garapannya. Citra rasa tinggi ini berupa pilihan kata yang tepat, pemilihan gambar yang sesuai, dan kemampuan merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat atau paragraf yang mudah dicerna. Jika diruntut, kewajiban seorang editor buku, baik buku umum atau pun pelajaran ini terdiri atas tahap-tahapan penting. Apa saja tahapn-tahapan penting pekerjaan seorang editor itu?
Editor dalam percetakan buku terbagi menjadi dua, yaitu editor buku pelajaran dan editor buku umum. Tahapan-tahapan editor dalam pekerjaannya sebagai berikut:
 Editor buku pelajaran:
a.       Menerima naskah mentah
Seorang editor akan mendapatkan atau menerima naskah mentah yang telah masuk dan diterima oleh penerbit.
b.      Menyesuaikan isi naskah buku dengan kurikulum.  
Seorang editor buku wajib mengecek kesesuaian isi naskah dengan kurikulum yang sedang dipakai saat buku itu dibuat. Jika ada yang tidak sesuai maka editor berhak meminta tambahan materi pada penulis, namun terbiasanya hal tersebut harus menambahkan sendiri materi-materi yang kurang tersebut. Dibagian ini editor dituntut untuk selalu cepat dan berpikir mengenai naskah mentah ini di edit seperlunya sesuai kurikulum.
c.       Melakukan pemetaan kurikulum
Seorang editor buku pelajaran dituntut untuk melakukan pemetaan kurikulum dan membaginya dalam dua semester. Dibaginya ke dalam dua semester membuat perencanaan dalam jangka panjang dan isi buku tersebut diaplikasikan terhadap contoh yang nyata terjadi di masyarakat.
d.      Melakukan edit 1
Edit 1 adalah edit tahap pertama yang harus dilakukan oleh seorang editor. Tahap ini biasanya hanya mengedit kesalahan penulisan, kesalahan kalimat, serta perbaikan atas kalimat atau paragraf yang terkesan rancu.
e.       Melakukan edit 2
Edit 2 adalah proses mengedit naskah yang telah mengalami proses layout. Biasanya pada tahapan ini, proses mengedit lebih ke pada penggantian gambar yang kurang sesuai dan memriksa ulang naskah hasil dari edit 1.
f.       Melakukan edit monitor
Tahapn ini adalah proses edit terakhir sebelum sebuah buku dibuat bentuk dummy.
Editor buku umum
Tahapan kerjanya hampir sama dengan editor buku pelajaran hanya saja di tahap b dan tahap c yang dilakukan oleh editor buku pelajaran tidak dilakukan oleh editor buku umum.
Editor buku umum memiliki daya tulis yang tinggi. Oleh karena itu editor buku umum harus menguasai banyak bidang di masyarakat, lebih lagi terhadap tema-tema buku yang best seller.
            Sumber teks sebagian dari: Ratna, Susanti, S.S., M.Pd. Editor CV Sahabat

2.      Pengertian Pemberitaan
Pada bagian ini akan dibahas mengenai pengertian pemberitaan dari berbagai sumber. Pemberitaan selain terkait dengan media beritanya juga terkait mengenai kejadian yang berada di dalam berita itu. Media berita yang dikunjungi adalah media televisi namun tidak hanya di media televisi saja, berita dapat dimuat di media internet, media tekstual seperti koran, radio dan sebagainya. Terlebih dari itu berita-berita ini harus mengandung makna yang jelas dan dimengerti oleh siapapun.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI.2002) dikemukakan berita adalah cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat. Kalau hanya pengertian ini yang kita jadikan sebagai batasan berita, tentu akan timbul pertanyaan. Laporan kejadian apa? Peristiwa yang hangat bagaimana? Apakah  setiap kejadian yang hangat menarik dan berguna untuk disiarkan? Sebagai contoh. Anda terjatuh dan mengalami luka-luka. Ini sebuah kejadian. apakah kejadian ini menarik dan bergunan bagi pemirsa jika disiarkan? Tentu tidak! Kejadian hanya menarik perhatian dan berguna bagi keluarga, rekan atau pacara anda. Jadi batasan berita dalam KBBI belum sempurna.
Charles Dana 1996 dalam bukunya “broadcast journalism technique of Radio and TV news mengemukakan, “when a dog bites a man, the is not news, but when a man  bites a dog, the is news” artinya ketika anjing menggigit manusia itu bukan berita, tetapi ketika manusia menggigit anjing itu baru berita. Kalau definisi berita itu dicerna secara mentah-mentah, maka kita akan keliru mengartikan sebuah berita. Bagaimana kalau yang digigit  anjing itu orang terkenal. Misalnya seorang presiden. Tentu itu adalah berita yang layak disiarkan. Dalam definisi ini Charles Dana mungkin memberikan batasan berita secara filosofis, bahwa segala sesuatu yang diluar kebiasaan atau sesuatu yang unik adalah berita. Untuk apa manusia menggigit anjing, perilaku ini tentu aneh bagi orang normal.
Freda Morria dalam buku yang sama mengemukakan “News is immediate, the important, the things that have impact on our lives” artinya berita adalah sesuatu yang baru, penting uang dapat memberikan dampak dalam kehidupan manusia. Dari definisi ini ada tiga unsur pada sebuah berita yakni baru penting dan berguna bagi manusia. Definisi berita ini semakin memperluas khasanah kita tentang berita. Berita tidak hanya sekedar mengandung bagi pemirsa. Sudah memadaikah unsur-unsur berita tersebut.
Eric C Hepwood  (1996) mengemukakan, berita adalah laporan pertama dari kejadian yang penting sehingga dapat menarik perhatian umum. Definisi ini mengungkapkan tiga unsur berita yakni aktual, penting dan menarik. Persoalannya adalah apakah berita hanya bersumber pada sebuah kejadian, bagaimana dengen pernyataan manusia mengenai masalah-masalah aktual.
Sementara itu pakar komunikasi lainnya seperti JB Wahyudi mengemukakan, berita adalah laporan tentang peristiwa atau pendapat yang memiliki nilai penting, menarik bagia sebagian khalayak, masih baru dan dipublikasikan secara luas melalui media massa periodik. Peristiwa atau pendapat tidak akan menjadi berita bila tidak dipublikasiman melalui media massa periodik.
Dari definisi yang dikemukakan JB Wahyudi dapat kita pahami  bahwa berita bukan hanya kejadian atau peristiwa tetapi juga pendapat yang memiliki nilai penting, menarik dan aktual. Selain itu dalam karya jurnalistik, peristiwa atau pendapat tersebut baru dapat dikatakan sebuah berita apabila sudah  dipublikasikan melalui mendia massa periodik, surat kabar, majalah, radio, televisi. Jadi kalau berita itu disajikan melalui papan pengumuman, selebaran, leaflet atau spanduk tentu pengertiannya bukan lagi berita, tetapi itu adalah pengumuman atau pemberitahuan.
Berdasarkan  beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa berita adalah laporan tentang fakta peritiwa atau pendapat yang aktual, menarik, berguna dan dipublikasikan melalui media massa periodik, seperti: surat kabar, majalah, radio dan televisi. Namun, definisi ini masih bersifat umum. Belum secara spesifik menjelaskan mengenai definisi berita televisi.
Berita televisi bukan hanya sekadar melaporkan fakta tulisan/narasi, tetapi juga gambar (visual), baik gambar diam seperti foto, gambar peta, grafis, maupun film berita yakni rekaman peristiwa yang menjadi topik berita dan mampu memikat pemirsa. Bagi berita televisi gambar adalah primadona atau paling utama daripada narasi. Kalua gambar berita yang disiarkan mampu bercerita banyak, maka narasi hanya sebagai penunjang saja. Berita televisi tanpa gambara tidak ubahnya dengan berita radio.
Jadi dapat kita simpulkan berita televisi adalah laporan tentang fanta peristiwa  atau pendapat manusia atau kedua-duanya yang disertai gambar aktual, menarik, berguna, dan disiarkan melalui media massa televisi secara periodik.
Dari definisi tersebut, maka berita televisi dapat kita bagi menjadi tiga jenis;
1. Berita fakta peristiwa
2. Berita fakta pendapat
3. Berita fakta peristiwa dan pendapat 
Berita fakta peristiwa adalah laporan tentang segala sesuatu peristiwa sebagaimana adanya, misalnya kebakaran, bencana alam, dan kecelakaan. Berita ini disusun hanya berdasarkan pengamatan  wartawan dan tempat kejadian perkara (TKP).
Berita fakta pendapat adalah laporan tentang pernyataan pendapat manusia mengenai segala sesuatu  yang tengah aktual,  misalnya, pendapat pakar mengenai implikais kenaikan BBM, pendapat berbagai kalangan masyarakat mengenai 100 hari Kabinet Susilo bambang Yudhoyono (SBY) dan tanggapan SBY atas komentar kinerja kabinetnya. Berita ini disusun hanya berdasarkan tanggapan saja dan tidak ada peristiwa.
Berita fakta peristiwa dan fakta pendapat adalah laporan tentang segala sesuatu peristiwa yang terjadi dan pendapat manusia yang berkompeten mengenai fakta peristiwa tersebut. Misalnya ratusan ribu TKI dari negeri jiran kembali ke tanah air, kecelakanaan di jalan tol akibat penghentian kendaraan tanpa prosedur sebelum iringan-iringan Presiden SBY lewat dan Jakarta di landa banjir. Berita peristiwa  tersebut disisipi  dengan pendapat berbagai kalangan mengenai masalah itu, misalnya komentar TKI, korban, polisi, pengamat, dan pejabat pemerintah. Jadi berita ini disusun berdasarkan fakta peristiwa dan disisipi tanggapan manusia yang berkompenten mengenai masalah itu.
Pemberitaan berasal dari imbuhan dengan awalan depan-pem dan akhiran-an. Pemberitaan bermakna sebagai kata kerja melakukan pemberitaan. Pemberitaan secara umum identik dengan meliputi kejadian yang memiliki daya jual kepada masyarakat. Pemberitaan ini identik dengan media massa, media elektronik karena sebagai media penyampaiannya.
Pemberitaan berarti seolah melakukan pekerjaan, dengan demikian berarti pemberitaan adalah kegiatan untuk meliput suatu peristiwa yang terjadi, peristiwa tersebut identik sedang terjadi dan mempunyai retensi waktu yang lama. Setelah kegiatan ini diperlukan pengeditan tulisan dan gambar. Kegiatan tersebut diperlukan untuk mensinkronasikan tulisan dengan gambar berita yang sedang terjadi.
            Sebagian bersumber dari: Sainuddin S.Sos, Teknik Penulisan Berita TV, UMB